RSS

Selamat datang di blog saya. Blog ini berisi tentang artikel-artikel yang menurut saya menarik, lucu, romantis, unik & mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Selamat membaca.... ^_^

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jangan Mengeluh



Alkisah, ada seorang bangsawan kaya raya yang tinggal di sebuah daerah padang rumput yang luas. Suatu hari, karena ternak yang dipunyainya semakin banyak, sang bangsawan memilih 2 orang anak muda dari keluarga yang miskin untuk dipekerjakan. Yang berbadan tinggi dan tegap dipekerjakan sebagai pengurus kuda. Sedangkan yang berbadan kurus dan lebih kecil dipekerjakan sebagai pengurus ternak kambingnya.

Setelah beberapa saat, si badan tegap dengan arogan berkata kepada si badan kecil:"Hai sobat. Aku lebih besar badannya dari badanmu. Aku juga lebih tua darimu. Mulai besok, kita bertukar tempat. Aku memilih untuk mengurus kambing. Dan kamu menggantikan aku mengurus kuda. Awas kalau tidak mau! Dan awas ya, jangan laporkan masalah ini ke tuan kita! Kalau kamu berani lapor atau menolak, tahu sendiri akibatnya! Aku habisi badan kecilmu itu!"

Sore hari, dengan muka murung dan langkah gontai dia pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, melihat muka murung dan kegalauan anaknya, si ibu bertanya: "Nak, ada apa? Ada masalah apa? Coba ceritakan ke ibu".
Dengan kasih sayang dan kelembutan, mereka berbincang saat makan malam. Si anak pun menceritakan peristiwa yang tadi terjadi.
Dengan bersungut-sungut si anak melanjutkan: "Sungguh tidak adil kan, Bu. Dia mengancam dan memaksa aku untuk mengurus kuda-kuda liar. Dia yang berbadan besar memilih mengurus kambing. Badanku kecil begini, bagaimana aku bisa mengejar-ngejar kuda yang begitu besar. Aduuuh Bu...sungguh jelek nasibku."
Sambil menunduk lesu dia menghabiskan santap malamnya.

Si ibu dengan senyum bijak berkata, "Nak. Semua masalah pasti ada hikmahnya. Syukuri, hadapi, dan terima dengan besar hati. Tidak usah memusuhi dan membenci temanmu itu. Ibu percaya, semua kesulitan yang akan kamu hadapi, jika kamu mampu belajar dan kerja keras, pasti akan membuatmu menjadi kuat dan bermanfaat untuk masa depanmu."

Sejak saat itu, si anak kurus itu dengan susah payah setiap hari bergelut dengan pekerjaan mengurus kuda-kuda yang bertubuh tegap, besar, dan masih liar. Dia harus jatuh bangun mengejar mereka, kadang terkena tendangan, bahkan pernah terinjak hingga terluka parah. Dari hari ke hari keahlian dan kemampuannya menguasai kuda-kuda pun semakin membaik. Tidak terasa, tubuhnya pun berkembang menjadi tinggi, tegap dan perkasa.
Hingga suatu hari, terjadi pecah perang antarnegara. Kerajaan membutuhkan prajurit pasukan berkuda. Dan si pemuda pun terpilih sebagai pemimpin pasukan berkuda karena kepiawaiannya mengendalikan kuda-kuda.

Di kemudian hari, si pemuda berhasil memimpin dan memenangkan perang yang dipercayakan kepadanya dan dikenal banyak orang karena kebesaran namanya. Dia adalah pemimpin bangsa mongol yang tersohor, bernama : Genghis Khan

Sahabat yang berbahagia,Dalam putaran kehidupan sering kali kita dihadapkan pada keadaan yang sepertinya membuat kita dirugikan, menderita, dan kita pun tidak berdaya kecuali harus menerimanya. Kalau kita larut dalam kekecewaan, marah, emosi, pasti kita sendiri yang akan bertambah menderita.
Lebih baik kita anggap ketidaknyamanan sebagai latihan mental dan kesabaran. Mari berjiwa besar dengan tetap melakukan aktivitas yang positif, sehingga sampai suatu nanti pasti perubahan lebih baik, lebih luar biasa akan kita nikmati! 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rencana Bung Karno untuk masa depan Indonesia


Banyak orang yang nggak tau bahwa Bung Karno adalah salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik, dia sendiri sudah mendesain seluruh wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya, hal ini menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.

Kebanyakan dari orang-orang beranggapan Sukarno hanyalah seorang arsitek yang gemar mendesain patung, hasil karyanya untuk rumah hanyalah beberapa rumah di Bandung yang ia gambar saat ia berkolaborasi dengan Insinyur Rooseno, atau ketika ia baru lulus kuliah THS (sekarang ITB) membuat jembatan-jembatan kecil. Bahkan secara sarkastis, mahasiswa-mahasiswa anti Sukarno di tahun 1965 meledek Bung Karno sebagai "Orang Tua Pikun, Patung kok dikira celana" samberan ini meledek soal pidato Sukarno, bahwa Patung itu seperti celana, sebagai sebuah kehormatan bangsa.

Padahal Sukarno adalah pemikir besar, ia mendesain bukan saja patung-patung yang banyak meniru model Eropa Timur, ia mendesain kota-kota besar masa depan Indonesia. Di tahun 1958 setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal-modal Belanda sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia dengan merobek-robek perjanjian KMB, Sukarno sebenarnya sudah merancang Djakarta menjadi kota tempur.

Seperti kota Singapura di mana seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan lebar sekali, sebenarnya itu disiapkan untuk menjadi markas atas penguasaan wilayah Asia Tenggara. Bagi Bung Karno stabilitas Asia Tenggara adalah segala-galanya untuk melepaskan Indonesia dari politik ketergantungan modal dan politik invasi wilayah-wilayah produk ~apa yang ditakutkan Sukarno pernah diucapkan pada Djuanda "Amerika sekarang tak lebih dengan Belanda, mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah, mereka hanya berminat wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produktie, inilah yang menyamakan mereka dengan Belanda di tahun 1947 dimana agresi militer mereka dinamakan dengan sandi "Operatie Produkt".

Wilayah-wilayah yang jadi prioritas Sukarno setelah siap perang dengan Belanda adalah Irian Barat, merebut Irian Barat dan menjadi satu bagian NKRI adalah satu syarat agar bangsa ini menjadi paling kuat di Asia. Selain Irian Barat yang menjadi perhatian penting Bung Karno adalah Kalimantan. Awalnya Semaun yang membawa saran tentang perpindahan ibukota, -Semaun adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni di wilayah Asia Tengah - dan ini kemudian disambut antusias oleh Bung Karno, selama 1 tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Kalimantan ini, ia berkesimpulan "masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air. Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara".

Bung Karno membagi dua kekuatan itu besar pertahanan nasional dalam dua garis besar : Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armada-nya (ini sesuai dengan garis geopolitik Douglas MacArthur) dan Pertahanan Udara di Kalimantan. Lalu Bung Karno mencari kota yang tepat untuk menjadi 'Pusat Kalimantan'.

Lalu pada satu malam di hadapan beberapa orang Bung Karno dengan intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan, ia menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta, kemudian Sukarno berkata dengan mata tajam ke arah yang mendengarnya "Itu Ibukota RI" Bung Karno menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan. Lalu Bung Karno ke tepi Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut, dari Pasar inilah Bung Karno mengatakan "Ibukota RI dimulai dari sini" ini sama persis dengan ucapan Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang saat membangun jalan darat Pos Selatan untuk gudang arsenal Hindia-Perancis, ketika itu ia menunjuk satu tempat yang kita kenal sekarang sebagai Bandung "Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan Jawa".

Lalu Bung Karno menyusun dasar-dasar kota administrasi provinsi dengan dibantu eks Gubernur Jawa Timur RTA Milono, pada saat penyusunan birokrasi itu Bung Karno sedang menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari Sabang Sampai merauke. Antara Pulau Sumatera-Jawa dan Bali akan dibangun terowongan bawah tanah, karena rawan gempa Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau dipesan kapalnya dari Polandia. Tapi rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan bahkan menjelang kejatuhannya di tahun 1966 ia bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa dan Bali.

Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi disepanjang pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi, Sukarno mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai "Zona Tapal Kuda". Wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan.

Kota-kota baru dibangun, pilot project-nya adalah Palangkaraya dan Sampit, setelah itu Djakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern, Jakarta tetap dijadikan pusat kota jasa Internasional sementara Palangkaraya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanam militer udara, Biak di Irian Barat jadi pertahanan militer laut dan Bandung jadi Pusat Pertahanan militer darat.

Seluruh jalan Palangkaraya dibuat lurus-lurus dan menuju satu bunderan besar, bila perang dengan Inggris beneran terjadi maka jalan-jalan itu diperlebar sampai empat belas jalur untuk pendaratan pesawat Mig21 yang diborong dari Sovjet Uni. Rencana tata kota sampai dengan tahun 1975. Rafinerij atau tambang-tambang minyak milik asing akan diambil alih dan diberikan pada serikat-serikat buruh penguasaan saham diatasnamakan negara dan uangnya untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umum. Pangdam Kaltim di pertengahan tahun 1960-an Brigjen Hario Ketjik adalah salah satu fanatik Sukarnois yang menerapkan rencana ini di Kalimantan Timur.

Pembangunan tata ruang kota Palangkaraya diatur amat teliti, sampai sekarang tata ruang kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia. Visi Sukarno, di tahun 1975 Indonesia akan jadi bangsa terkuat di Asia dan menjadi salah satu negara adikuasa dunia dalam konteks the big five : Amerika Serikat, Inggris, Sovjet Uni dan Jepang,

Jepang dan Cina menurut Sukarno masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi negara terkuat di Asia memimpin tiga zona wilayah. (Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Timur).

Setelah Bung Karno kalah duluan sama Suharto dalam penguasaan keadaan saat Gestapu 1965, Bung Karno diinternir, Suharto amat takut dengan bentuk persebaran kekuatan wilayah, ia bertindak seperti Amangkurat I yang paranoid terhadap kekuatan pesisir, ia tarik seluruh kekuatan modal dan manusia ke satu pusat yaitu : Jawa.

Padahal Jawa disiapkan Sukarno sebagai pulau yang khusus lumbung pangan dan pariwisata, pulau peristirahatan, sekarang Jawa adalah pusat segala-galanya, menjadi pulau paling padat sedunia dan tidak memiliki kenyamanan sebagai sebuah 'surga khatulistiwa' sementara Kalimantan dibiarkan kosong melompong.

Andai saja akademisi kita tidak ikut-ikutan mengotori dirinya seperti comberan mulut politikus, ada baiknya menggali "rencana-rencana Sukarno" ini ketimbang mengomentari dan mengamati 'Para Maling main politik'.

Bersiaplah kaum muda untuk kembali ke peradaban Sukarno...

Peradaban penuh daulat dan kehormatan!!..........


Jakarta. Februari 2012


Ditulis oleh Anton DH Nugrahanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

10 Aksi Fenomenal Dahlan Iskan Sejak Jadi Menteri BUMN


Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapkan, saat ini ada dua pejabat di Indonesia yang 'pandai' menyedot perhatian publik lewat aksi-aksinya. Mereka adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dengan segala aksinya dan Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) dengan memindahkan PKL dan mobil Esemka.

Nah, berbicara Dahlan Iskan, banyak orang sudah tahu kalau gaya menteri satu ini sangat khas dengan berbagai celetukan dan terobosannya yang lain dari yang lain. 


Berikut ini beberapa aksi fenomenal yang pernah dilakukan oleh mantan Dirut PLN tersebut dikumpulkan dari berbagai pemberitaan detikFinance, Kamis (22/3/2012).

1. Jadi Sopir Wakil Menteri BUMN
Ini ia lakukan sebagai resep agar bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan Wakil Menteri BUMN Mahmudin Yasin. Ia juga menciptakan model komunikasi moderen dengan para pejabat eselon I di lingkungannya.

Dahlan mengaku sebelum dilantik sebagai menteri BUMN tidak mengetahui siapa yang akan menjadi wakilnya. Pertemuan pertama Dahlan dengan Yasin adalah saat pelantikannya 19 Oktober 2011 lalu. Dahlan pun mencoba akrab dengan Yasin dengan mengajaknya mengendarai mobil bersama dari kantor presiden ke kementerian BUMN.

2. Naik Kereta Demi Rapat di Istana Bogor
Dahlan melakukannya demi memenuhi janjinya menggunakan KRL Commuter Line untuk melihat langsung perubahan fasilitas kereta api Jakarta-Bogor. Aksinya ini bersamaan ketika ia bermaksud ke Istana Bogor guna menghadiri rapat kabinet.

Layaknya penumpang biasa, Dahlan memilih memutar di sekitar lokasi, tidak ada satu pun ajudan yang ada di sampingnya. Dahlan ingin tahu perubahan-perubahan yang sudah dilakukan PT KAI. "Kita jangan cuma ngomel-ngomel, tapi nggak pernah nggak naik. Saya juga termasuk yang memang pencinta kereta," jelasnya. 

Lewat aksinya itu ia nyaris telat rapat di Istana Bogor hingga harus menyewa ojek, dan harus berlari-lari kecil karena khawatir terlambat.

3. Menyetir Mobil 40 Km Hanya Demi Melihat Sapi
Peristiwa ini Dahlan lakukan saat peringatan hari pers nasional Februari lalu. Ia mengunjungi tempat peternakan sapi di pinggiran Kota Jambi, seperti biasa tidak ada pejabat yang mendampingi dan voorijder. Dia hanya didampingi dua staf khususnya dan wartawan senior Ishadi SK.

Dahlan mengemudikan mobil Ford Everest BH 1962 dari Kota Jambi menuju lokasi PTPN VI (PT Perkebunan Nusantara) yang berjarak sekitar 40 KM. PTPN VI berada di kabupaten Batanghari.

4. Ngamuk di Tol Semanggi
Nah, aksi yang satu ini masih begitu hangat dan menjadi pembicaraan publik dua hari lalu. Dahlan Iskan ngamuk di pintu tol dekat Jembatan Semanggi menuju arah Slipi. Penyebabnya, antrean di tol tersebut sangat panjang tetapi loket yang dibuka hanya dua dari empat pintu yang ada.

5. Rapat Wajib seluruh Direksi BUMN tiap Selasa Pagi
Ia mewajibkan rapat pimpinan setiap Selasa pagi. Rapat berfungsi untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi BUMN, mengevaluasi dan memutuskan langkah yang dilakukan. Menurutnya, pola rapat pimpinan ini berhasil membawa kinerja yang apik bagi PLN.

Pola rapat semacam ini, tidak hanya di jajaran Kementerian, para BUMN juga dianjurkan melakukan hal yang sama. Lalu, kenapa Selasa menjadi hari pilihan Dahlan? Mantan Bos Jawa Pos ini beralasan, bahwa Senin merupakan rapat konsolidasi intern berupa komunikasi antar staf. Dalam rapat awal pekan akan dibawa ke rapat pimpinan di hari Selasa.

6. Test Drive Mobil GEA dan Esemka
Dahlan menjadi salah satu sekian pejabat yang mencicipi mobil Esemka besutan pelajar SMK Solo. Selain Esemka, di juga ke Madiun untuk menyambangi kantor PT Industri Kereta Api (INKA) guna mencoba mobil buatan BUMN tersebut yang bermerek GEA.

Dahlan dijemput pihak INKA untuk meninjau pembuatan kereta di pabrik BUMN tersebut, dan akhirnya meninjau bengkel pembuatan mobil GEA. Salah satu mobil GEA yang dicoba Dahlan sempat mogok sehingga dia harus mengganti dengan mobil yang baru. Dahlan pun menggunakan mobil GEA untuk mengunjungi sebuah pesantren di Kelurahan Takeran, Magetan, Jawa Timur

7. Tolak Lift dan Ruang Kerja Pribadi dan Tak Pakai Mobil Dinas
Dahlan pernah menolak menggunakan lift pribadi di kantornya saat ia pertama kali jadi menteri BUMN ketika menyambangi para pegawai BUMN. Ia juga sempat menolak ruang kerja pribadi menteri BUMN dan memilih ruang rapat. Sosok unik ini juga jarang memakai mobil dinas, memilih mobil Jaguar pribadinya berplat L 1 JP.

8. Jalan Kaki ke Kantor Jero Wacik
Tak seperti kebiasaan menteri-menteri lainnya, Dahlan memang terlihat beda. Misalnya saat ia rapat ke Kementerian ESDM, Dahlan pernah berjalan kaki dengan sepatu kets kesayangannya dan didampingi oleh 2 asistennya. Kejadian itu terjadi pada Selasa (25/10/2011) beberapa hari setelah ia dilantik jadi Menteri BUMN.

Kantor Kementerian BUMN letaknya di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Memang jaraknya dengan kantor Kementerian ESDM hanya sekitar 300 meter karena berada di ruas jalan yang sama.

9. Menginap di Rumah Petani Miskin di Sragen
Kejadian ini ia lakukan saat kunjungan kerja ke Sragen, Jawa Tengah pertengahan Maret 2012. Mantan Direktur Utama PLN ini memilih menginap di rumah seorang warga di Dusun Karang Rejo, Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Sragen.

Bukan hanya itu saja, selama di rumah warga, Dahlan menyempatkan berdialog seputar kehidupan buruh tani. Dahlan juga melihat kandang sapi dan mengambil telur ayam, bahkan ikut menanam benih pada di sawah.

10. Rapat dengan Direksi BUMN Pakai 'BBM'
Dahlan perintahkan pola rapat seperti ini sekitar dua bulan terakhir kepada direksi BUMN, ini dilakukan sebagai cara baru untuk rapat. Ia dan anak buahnya tak perlu membuang waktu datang ke kantor Kementerian BUMN, tapi cukup melalui BlackBerry Messenger (BBM).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sri Aji Jayabaya

Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Pemerintahan Jayabhaya
2 Jayabhaya dalam Tradisi Jawa
3 Kepustakaan
4 Lihat pula

[sunting] Pemerintahan Jayabhaya

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

Kemenangan Jayabhaya atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.
[sunting] Jayabhaya dalam Tradisi Jawa

Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga .Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

"Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.[1]
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Asal-usul
2 Analisa
3 Kitab Musasar Jayabaya
4 Isi Ramalan
5 Kepustakaan
6 Pranala luar

[sunting] Asal-usul

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak. Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.
[sunting] Analisa

Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton". Giri Kedaton ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "JANGKA JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-ndgara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "REPUBLIK INDONESIA"!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.
[sunting] Kitab Musasar Jayabaya

Asmarandana

Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.
Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.
Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.
Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.
Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.
Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.
Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,
Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.
Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.
Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu..
Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.
Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.
Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.
Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.
Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.
Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.
Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.


Sinom

Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.
Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat.
Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.
Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.
Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.
Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.
Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.
Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.
Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.
Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.
Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.
Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.
Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.
Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.
Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.
Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).
Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).
Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

[sunting] Isi Ramalan

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.
Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.
Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.
Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.
Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.
Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.
Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.
Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
Nantang bapa--- Menantang ayah.
Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.
Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.
Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.
Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.
Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil
Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil
Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.
Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.
Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.
Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
Wong salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.
Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.
Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan
Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.
Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.
Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.
Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.
Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.
Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang gonta-ganti pasangan.
Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.
Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.
Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.
Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.
Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.
Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.
Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.
Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
Akeh laknat--- Banyak kutukan
Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.
Anak mangan bapak---Anak makan bapak.
Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.
Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
Guru disatru---Guru dimusuhi.
Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.
Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.
Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.
Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.
Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.
Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.
Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.
Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.
Akeh barang haram---Banyak barang haram.
Akeh anak haram---Banyak anak haram.
Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.
Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.
Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.
Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.
Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.
Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.
Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.
Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.
Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.
Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.
Sing wedi mati---Yang takut mati.
Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih
Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur
Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.
Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.
Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.
Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.
Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.
Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.
Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.
Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.
Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.
Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.
Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.
Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.
Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.
Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.
Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.
Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.
Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.
Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.
Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.
Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.
Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.
Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.
Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.
Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.
Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.
Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.
Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.
Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.
Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.
Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.
Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.
Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci.
Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.
Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.
Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.
Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.
Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.
Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh
Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.
Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.
Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.
Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.
Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
Agama ditantang---Agama ditantang.
Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.
Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.
Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.
Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.
Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.
Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.
Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.
Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga
Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.
Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.
Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.
Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.
Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.
Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.
Buruh mangluh---Buruh menangis.
Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.
Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.
Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.
Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.
Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.
Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.
Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.
Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.
Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.
Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.
Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.
Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sri Sultan Hamengku Buwono IX

 
Sepotong Sejarah Dari Yogya

Ada yang menarik dari perbincangan Andy F. Noya dengan Sultan Yogya. Pertama, menjadi jelas memang figur Sultan Yogya masih sangat kharismatis di mata orang Jawa, kedua Megawati dan capres lainnya akan punya lawan kuat dan ketiga memperlihatkan Yogya merupakan sebuah daerah inti pembentukan Republik Indonesia. Lalu ketika kita mengingat Yogya dan perjuangannya maka pandangan kita tak bisa dilepaskan pada Sultan Yogya ke sembilan. Raja terbesar Yogyakarta sepanjang sejarah kesultanan Yogyakarta sejak Perjanjian Giyanti 1755.

Sepanjang sejarahnya Yogyakarta lebih dikenal sebagai wilayah yang melahirkan pembangkang terhadap kekuasaan kolonial Hindia Belanda ketimbang pusat budaya. Berbeda dengan Mangkunegaran yang dimulai
dari kebesaran Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo di mana kemudian Mangkunegaran berubah menjadi wilayah tersendiri yang kaya raya dan banyak menghasilkan karya-karya sastra dan budaya. Puncak karya Mangkunegaran adalah pada masa Mangkunegoro IV dan Mangkunegoro VI dengan karyanya Wulangreh, Serat Kalathida dan banyak karya lainnya begitu juga dengan tari-tarian yang adiluhung. 

Sementara Kasunanan Solo mengalami puncak kejayaannya pada masa Pakubuwono X (sepuluh). Beliau merupakan Raja Jawa yang sering dibilang sebagai Ratu Wicaksono dan sangat kaya raya sekali karena menguasai jaringan perdagangan gula. 

Dibanding Kasunanan dan Mangkunegaran, wilayah Voorstenlanden Yogya seperti : Kasultanan dan Pakualaman tidak memiliki apa-apa. Sultan Yogya ke delapan malah terkenal sebagai Sultan yang senang pesta mewah. Gambar-gambar perjamuan makan Sultan Yogya VIII menunjukkan selera tinggi Sultan yang gemar menghambur-hamburkan uang. Tapi Sultan Yogya VIII ini punya putera yang luar biasa, dia bernama : Dorodjatun. Dorodjatun ini bukan putera dari Garwo Padmi (Permaisuri) tapi putera dari Garwo Ampilan (selir). Di usianya yang begitu muda Dorodjatun melihat ibunya separuh terusir dari Istana, dan tinggal di luar lingkungan Istana. Hal ini membekas di hatinya.

Dorodjatun di titipkan oleh Bapaknya ke keluarga Mulder, dididik dengan cara-cara Belanda, dengan begitu Dorodjatun tahu adat istiadat orang Belanda, dengan cara berpikir barat kelak dia mampu mempermainkan Belanda pada masa-masa perang Revolusi. Setelah dewasa Dorodjatun disekolahkan di Belanda disini dia mempunyai sahabat Puteri Juliana yang kelak menjadi Ratu Belanda. Puteri ini senang sekali dengan Dorodjatun karena sikapnya yang pendiam, sederhana namun pandai melucu. Kedua anak bangsawan ini-pun bersahabat, tapi ada rumor yang bilang kalau sang Puteri jatuh cinta dengan Dorodjatun. 

Di Belanda Dorodjatun juga sekelas dengan Hamid Algadrie, Nah Hamid ini kelak menjadi Sultan Hamid II, Raja Pontianak tokoh penting di balik BFO (Bijeenkomst voor Federale Overleeg) sebagai hasil kompromi terhadap Konferensi Meja Bundar. Bila dibaca dari buku `Tahta Untuk Rakyat’ terlihat sekali kedua Sultan ini merupakan rival. Bahkan Dorodjatun dengan sedikit sinis menceritakan bahwa Hamid Algadrie kecil pernah nangis ketika berkelahi dengan seorang perempuan. Hubungan kedua Sultan ini kelak di jaman Revolusi kurang begitu baik tapi mereka sering berhubungan karena desakan politik.

Sekitar akhir tahun 1930-an Sultan HB VIII memanggil anaknyaDorodjatun untuk pulang, mereka bertemu di Batavia tepatnya di Hotel Des Indes (Hotel ini kelak menjadi Pertokoan Duta Merlin). Di Hotel itulah Sultan menyerahkan tahtanya dan mangkat. Jadilah Dorodjatun menjadi Sultan HB IX. Tidak seperti Bangsawan-Bangsawan lain, Sultan HB IX dikenal sebagai seorang Sultan yang rendah hati, dia benar-benar bergabung dan membela rakyatnya ini menjadi cerita-cerita rakyat Yogya yang legendaris.

Sebelum dinobatkan menjadi Sultan sudah tahu kebiasaan pemerintahan Hindia Belanda selalu berunding dulu dengan calon Raja lewat Residennya. Biasanya perundingan ini untuk menodong konsesi-konsesi politik pada calon Raja baru, sebagai wilayah yang merdeka kekuasaan Sultan Yogya sangat terbatas dan selalu diawasi oleh Residen. Biasanya pada Sultan-Sultan terdahulu, perundingan berlangsung singkat, karena pendahulu Dorodjatun biasanya tak mau ambil pusing, apalagi setelah insiden Ontowiryo yang berbuah perang Diponegoro. Namun Dorodjatun tidak mau mengalah pada perundingan ini. Tapi pada suatu malam Dorodjatun mendengar suara “Sudah kamu tanda tangani saja, sedikit lagi Belanda pergi dari sini” Dorodjatun yakin bahwa itu suara nenek moyangnya. Dan paginya dengan hati ringan ia menandatangani pengajuan konsesi, toh Belanda sedikit lagi mau pergi. Hal itu membuat Residen Belanda
tercengang karena tanpa angin tanpa hujan Sang Pangeran Mahkota mau menandatangani pengajuan konsesi setelah selama berbulan-bulan menolak habis-habisan pengajuan dari Belanda. Lalu dinobatkanlah sang Sultan menjadi Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo, Kalifatullah Ingkang Kaping Songo”. Di saat penobatan itu pula-lah Sri Sultan HB IX mengucapkan kata terkenalnya : ”Saya memang
berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa”

Di pertengahan tahun 1945 orang-orang pergerakan di Jakarta sudah berhasil memasuki masa puncak kerjanya yaitu : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dimana Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan
kemerdekaannya. Namun tuntutan kemerdekaan politik itu oleh pihak Republikein secara de jure hanya daerah kekuasaan Belanda. Di luar kekuasaan Belanda kaum Republikein tidak berhak, sementara wilayah
kekuasaan Solo-Yogya disebut Voorstenlanden adalah daerah yang dipertuan oleh Sunan Solo, Mangkunegoro, Sultan Yogya dan Paku Alam dan bukan kekuasaan Hindia Belanda. Di puncak sejarah inilah nasib kedua wilayah menjadi sangat berbeda juga nasib kehidupan kraton-kratonnya kelak. Sunan Solo dan Mangkunegoro bimbang, bahkan separuh menolak bergabung dengan Republik Indonesia. Mereka takut bila bergabung dengan Republik kerajaan-kerajaan akan dilikuidir dan pemerintahan yang dikabarkan Sosialis itu menolak adanya bentuk feodalisme. Sementara Sultan Yogya dan Paku Alam dengan keyakinan bulat mendukung Republik Indonesia dan bergabung dengan Republik Indonesia. Penggabungan Sultan Yogya ini merupakan simbol bahwa Raja Jawa (Jawa adalah simbol dari pusatnya Nusantara) berdiri di belakang Sukarno-Hatta ini berarti dari sisi budaya kemerdekaan RI mendapatkan legitimasinya. Sunan Solo dan Mangkunegoro masih menolak dan ini berakibat fatal karena rakyat Solo keburu marah pada dua raja ini dan meledaklah Gerakan Swapraja dimana mereka menuntut Raja Solo dan
Mangkunegaran menyerahkan hak istimewanya ke Republik Indonesia sejak saat itulah Kasunanan Solo kehilangan wibawanya. Mangkunegaran masih agak terselamatkan karena kelak Suharto yang menjadi Presiden RI kedua menikahi kerabat jauh Mangkunegaran dan Keraton Mangkunegaran masih sedikit memiliki pamor.

Sultan Yogya meminta agar Sukarno-Hatta dan seluruh pemimpin Republik pindah ke Yogyakarta, dengan pertimbangan Belanda lewat NICA sudah membonceng Sekutu dan akan menjadikan Jakarta sebagai pusat
pertempuran. Dan memang betul perkiraan Sultan Garis Jakarta-Bandung merupakan pusat kekuatan militer NICA apalagi di Jakarta ada Batalyon X yang terkenal kejam. Di Yogya para penggede RI yang sesungguhnya miskin harta itu dibantu keuangannya oleh Sultan. Ibu Fatmawati dan Ibu Rahmi Hatta sering mendapat santunan dari Sultan Yogya, bahkan ada cerita bahwa Sultan itu kalau ngambil untuk bantuan kepada perjuangan Republik Indonesia tidak pernah ada hitungannya, ia raup semua (dengan menggunakan kedua tangan) keping-keping emas milik kas kesultanan tanpa perlu menghitung kembali dan setelah kondisi RI mapan Sultan sama sekali tidak menyinggung- nyinggung hal ini, dia selalu diam. Ini tidak seperti pemimpin-pemimpin lain yang gembar gembor perjuangannya termasuk berbohong untuk melambungkan peran perjuangannya, seperti apa yang dilakukan oleh Suharto.

Berbicara tentang Sultan HB IX tak lengkap rasanya bila tidak menyinggung kejadian `Janur Kuning’. Kejadian Janur Kuning bermula dari serangan besar-besaran militer Belanda tanggal 18 Desember 1948.
Belanda berhasil menerjunkan ribuan orang ke Maguwo Yogya tanpa perlawanan berarti kecuali dari taruna-taruna AURI di bawah komando Kasmiran. Penyerbuan ke Yogya pada waktu sangat mendadak pasukan penerjun payung kebanyakan KNIL orang Ambon dan Kupang dalam pertempuran di Maguwon itu 40 orang anak buah Kasmiran tewas ditempat. Saat itu sedang berlangsung perundingan antara pihak RI dengan Belanda di daerah Kaliurang. AH Nasution juga sedang berada di Yogya dan terlibat perundingan namun tiba-tiba Belanda melakukan sebuah keputusan nekat menyerang Yogyakarta. Prakarsa ini melawan kehendak Van Mook dan diputuskan oleh Dr.Beel Perdana Menteri Belanda dari garis keras, Van Mook sendiri lebih menginginkan langkah kooptasi dengan membentuk pemerintahan- pemerintahan boneka yang mengepung Jawa, tapi karena Belanda baru saja dapat bantuan dari proyek Marshall Plan uangnya digunakan untuk membiayai perang.

Serangan Belanda ke Maguwo mengikuti metode pasukan Jerman saat menduduki Nederland tanggal 10 Mei 1941. Menggunakan taktik penerjunan payung. Dengan langsung terjun payung, maka pasukan Belanda bisa langsung berada di garis belakang musuh tanpa melewati barikade-barikade militer yang ada di sekeliling Yogya terutama jalur Semarang-Yogya atau Purwekerto-Yogya. Pimpinan serangan umum Belanda ada ditangan Jenderal Spoor, yang dulu merupakan anak buah dan didikan Letjen Oerip Soemohardjo semasa di KNIL. Untuk pasukan dalam kota diserahkan kepada Kolonel Van Langen Komandan Brigade T.

Serangan berjalan lancar pertahanan dari pihak republik sama sekali tidak ada. Bahkan beberapa penduduk saat melihat pesawat-pesawat tempur jenis cureng di udara dan tank sherman mulai masuk kota, rakyat malah takjub dikiranya TNI sedang latihan perang-perangan. Beberapa di antaranya berteriak kegirangan karena bangga melihat pesawat-pesawat canggih terbang di atas kota dan mereka kira itu pesawat milik TNI AU. Memang sebelum serangan dimulai AH Nasution dan Bambang Sugeng Komandan Divisi Djawa Tengah sudah mengabarkan bahwa TNI akan melakukan latihan perang-perangan untuk mengantisipasi serangan Belanda. Namun belum latihan ternyata TNI sudah kedahuluan anak buah Jenderal Spoor.

Jenderal Sudirman yang tahu kota Yogya sudah terkepung buru-buru menghadap Bung Karno dan penggede-penggede Republik yang sedang rapat di Gedung Agung (Istana Negara) membahas serbuan Belanda. Jenderal Sudirman disuruh mengunggu di luar, sebentar Bung Karno menemui Sudirman dan mengatakan “Saya akan menyerahkan diri” Sudirman kecewa akan keputusan Bung Karno, dia balik bertanya “Bung tak mau bergerilya dengan saya di hutan-hutan? ” Bung Karno diam sejenak lalu tangannya memegang hidungnya, sejenak matanya berkedip-kedip “Dirman, kau tahu saya akan merasa terhina bila saya nanti tertangkap Belanda di kampung-kampung tengah hutan sebagai pelarian. Apalagi bila saya terbunuh, lebih baik saya ditangkap dengan cara terhormat dengan ini berarti dunia Internasional masih memperhatikan saya,…sekarang kamu pulanglah dulu..kamu sedang sakit, lebih baik beristirahatlah”

Sudirman kecewa bukan main terhadap jawaban Bung Karno sebelumnya ia juga sudah kecewa dengan sikap pemerintah yang didominasi kelompok Sjahrir yang masih suka berunding dengan Belanda. Sudirman lebih bersimpati pada kekuatan militer yang terpengaruh Tan Malaka ketimbang TNI pro Hatta atau Sjahrir. Tapi dia sungkan dengan Bung Karno. Akhirnya Sudirman pulang dengan hati mangkel.

Sudirman berjalan bersama ajudannya ke rumahnya. Sudah dua bulan dia terbaring sakit, dan baru kali ini dia bisa bangun dan keluar rumah setelah mendengar beberapa kali bunyi bom. Di rumah Sudirman lalu tidur di kamarnya. Paru-parunya tinggal satu, yang satunya lagi juga sudah menghitam terpengaruh penyakit. Badannya kurus kering. Saat ia terbaring beberapa perwira TNI mengunjunginya termasuk Kolonel Bambang Sugeng. “Saya tidak mau menyerah dengan Belanda” kata Jenderal Sudirman.
`Ya, Pak kita juga tidak akan menyerah, tapi Belanda sudah mengepung Yogya” kata Kapten Tjokropranolo ajudan Jenderal Sudirman. 
“Tjokro ambilkan aku jas dan blangkon di laci, minta pada Ibu…”
“Lho, Bapak mau kemana?”
“Saya akan menyingkir ke hutan-hutan saya tidak mau ditangkap Belanda”
“Tapi Bapak masih sakit”
“Anak-anakku masih banyak bergerilya di dalam hutan, masak aku mau nyerah begitu saja”
“Baiklah Pak nanti Bapak ditandu saja dengan kursi kayu di depan”
“Baiklah”

Sidang darurat di tengah agresi militer Belanda berlangsung cepat. Diputuskan pemerintahan akan di over ke Bukittinggi kebetulan di sana ada Menteri Kemakmuran Sjarifudin Prawiranegara dan beberapa pemimpin
Republik lapis tengah sedang bertugas di Bukittinggi. Termasuk beberapa perwira yang ada di Sumatera seperti Kolonel Hidayat yang menjabat Panglima Komandan Sumatera (ajudan Kol. Hidayat ini Kapten
Islam Salim -anak Agus Salim-), Kolonel Nazir diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Laut PDRI juga Kolonel Hubertus Soejono menjadi KSAU (kelak di tubuh AURI terjadi perpecahan karena belum terselesaikannya masalah penyerahan KSAU PDRI ke KSAU RI karena Suryadarma masih menganggap dia sebagai KSAU resmi, Suryadarma juga ikut ditangkap pada penyerbuan Belanda 28 Desember 1948 dan dibuang ke Bangka). Bung Hatta juga memerintahkan agar dibangun sebanyak mungkin zender (jaringan pengirim) radio untuk dijadikan kekuatan penekan bagi Palar di PBB. Setelah selesai Bung Karno keluar ruangan dan mendengar suara bom terus berjatuhan, sementara Sri Sultan HB IX berjalan di belakangnya. 
Bung Karno menoleh kepada Sultan. “Bung Sultan bagaimana dengan Bung, apa Bung yakin aman disini?” 
Dengan tersenyum Sri Sultan berkata “Bung Karno tidak usah mengkhawatirken saya, Belanda
tidak akan berani masuk Keraton, nanti biar para perwira-perwira TNI bersembunyi di dalam Keraton menyamar jadi abdi dalem”
“Kalau begitu saya akan tunggu itu Van Langen tangkap saya…sementara Bung Sultan tetap di Yogya”
“Ya saya kira begitu” Sri Sultan tersenyum. 
Sultan tahu Van Langen tidak akan berani menangkap dirinya, karena Sri Ratu Belanda sudah berpesan pada tentara Belanda jangan mengutak-atik kawannya Sri Sultan HB IX.

Sementara bom terus berjatuhan dari pesawat Mitchell dan deru pesawat tempur terus menerus terdengar. Beberapa kali ledakan bom terdengar di belakang Istana. Setelah Bung Karno selesai berbincang-bincang
dengan Sri Sultan ia melihat Sjahrir berjalan santai ke arah kamarnya. 
“Sjahrir kamu mau kemana” 
Sjahrir kaget menoleh ke arah Bung Karno. 
“Saya lapar Bung…mau makan dari siang belum makan ini”
Bung Karno tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Di tengah bom yang terus berjatuhan Sjahrir tetap dengan tenang makan nasi dan lauk pauknya. Saat ditanya salah seorang asisten kenapa dia tidak khawatir dengan bom yang terus berjatuhan, dengan enteng
Sjahrir menjawab dalam bahasa Belanda “Soal mati nantilah, yang penting aku makan dulu…”

Menjelang sore hari tanggal 19 Desember 1948 Istana Agung ditembaki oleh pasukan khusus Belanda, beberapa bom berjatuhan. Menyadari serbuan Belanda sudah tidak bisa ditahan oleh pasukan pengawal Istana. Bung Karno meminta pada Sjahrir untuk menyuruh orang membawa bendera putih pertanda bahwa orang-orang Istana menyerah. Sri Sultan HB IX berada di Siti Hinggil dia tidak mau terlihat bersama dengan
penggede Republik agar jangan ditangkap dan secara tersirat berpesan pada Belanda urusan Keraton dengan Republik sama sekali dia tidak tahu menahu. Ini memang strategi Sultan agar dia tidak bentrok dengan Belanda di awal penyerbuan. Sri Sultan paham pesan Bung Karno untuk tetap di Yogya, karena sesungguhnya kunci kemenangan itu diletakkan pada Sri Sultan bukan pemerintahan Darurat PDRI di Bukittinggi. Biarpun pemimpin Republik semua pergi, tapi masih ada pemimpin Republik yang punya kekuasaan di Yogyakarta, yaitu : Sri Sultan HB IX, di mana di mata Belanda sikap Sultan masih bisa dirubah dengan bujuk rayu dan Sultan hanyalah Republikein terselubung, hal yang tidak disadari Belanda bahwa sejak bulan September 1945 Yogyakarta sudah menyatakan bergabung dengan RI ini berarti kedudukan Sri Sultan HB IX di bawah Presiden RI bukan lagi netral seperti perkiraan Belanda.

Seorang Kapten Belanda masuk ke dalam gedong agung dan menghadap Bung Karno. “Tuan akan segera kami tangkap” Bung Karno tersenyum dan berkata singkat “Ya, kami sudah tahu…” mata Bung Karno melihat ke arah Perdana Menteri Hatta, Sjahrir, KSAU Suryadarma dan beberapa menteri lainnya. Lalu dia berkata pada kabinet Hatta itu “Ayo kita berangkat” Lalu Bung Karno dengan menenteng jas dan kopernya dibawa seorang serdadu Belanda menumpang sebuah jeep dibawa ke Maguwo untuk bertemu dengan Kolonel Van Langen, Komandan Brigade T.
“Saya harus diperlakukan sebagai Presiden Republik Indonesia, apa yang anda lakukan sudah menyalahi hukum perang..” kata Bung Karno dengan suara tegas pada Kolonel Van Langen. Kolonel Van Langen yang dari tadi duduk kemudian berdiri dan berjalan ke mejanya, ia mengambil sebuah surat dari atasannya. “Ini bacalah, Tuan” 
Bung Karno mengambil kertas itu lalu membaca singkat. “Saya bukan bagian dari negara Tuan, negeri kami sudah merdeka…dan saya adalah Presiden Republik Indonesia, saya tidak mau kalian tangkap seperti penjahat” 
Kolonel Van Langen agak gusar dengan jawaban Bung Karno tapi dia juga tidak tahu status Bung Karno dalam penangkapan ini apa.
Dia berjalan keluar ruangan kerjanya dan menyuruh anak buahnya menghubungi Jenderal Spoor. “Ya, ada apa Kolonel?”
“Jenderal, Tuan Sukarno minta kejelasan status”
“Ya, dia tawanan perang” Jawab Spoor singkat.
“Status tawanan apa?” tanya Van Langen.
“Presiden Republik Indonesia… biar saja, toh nanti akan segera kita likuidir Republik itu”
“Ya kalau begitu baiklah….” Kolonel Van Langen melangkah ke dalam dan menemui Bung Karno. “Tuan anda kami tawan sebagai Presiden Republik Indonesia”
Bung Karno tersenyum lebar. “Baiklah tapi ingat Kolonel kalian punya pemerintahan sudah bikin kesalahan fatal” wajah Van Langen meringis lalu berkata pelan “Saya tidak tahu politik Tuan, saya hanya tahu perang” Bung Karno tertawa. “Lalu kemana kami akan kalian bawa”
“Tuan akan kami putuskan setelah Tuan berada dalam pesawat, saya juga tidak tahu dimana Tuan akan kami bawa” Wajah Bung Karno tiba-tiba muram ia takut Belanda main curang dengan mentorpedo pesawatnya, tapi ia menenangkan diri Belanda lebih sportif daripada Jepang. 
“Tuan Sukarno besok Pagi Jenderal Mayoor Meijer akan datang menemui Tuan”
Bung Karno membenarkan letak duduknya “Jaantje Meijer sudah jadi Jenderal?”
“Ya Tuan… Jenderal Mayoor” Jawab Van Langen singkat. Bung Karno tahu Jaantje masih berpangkat Kolonel saat penyerbuan pasukan Belanda ke arah selatan Jawa dan sekitar Gunung Slamet.

Paginya Jenderal Mayoor Meijer datang ke ruang tahanan Bung Karno. Dengan berpakaian rapi dia menyapa sopan Bung Karno. 
“Goeden Morgen, Tuan Sukarno apa kabar?” 
Bung Karno berdiri menyambut Meijer. “Baik Tuan Meijer, saya masih Presiden Republik Indonesia” Meijer tertawa dan mengajak Bung Karno bicara. ” Dengan serangan ini berarti pemerintahan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi”
Bung Karno bungkem dia menahan marah mendengar kata-kata Meijer. 
“Tuan Sukarno saya harap pasukan-pasukan liar ekstremis menghentikan perlawanannya” 
Bung Karno semakin kesal mendengar ucapan Meijer. Akhirnya Bung Karno bicara setelah mendengar Meijer bicara panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan masa depan. 
“Dengar Tuan Meijer saya tidak akan tunduk dengan siapapun, Pasukanmu mungkin berhasil menguasai Yogyakarta tapi pasukan-pasukan liar yang Tuan sebut tadi, akan merebutnya kembali…Kami bukan orang yang gampang menyerah”
“Terserah Tuan tapi Tuan kami akan segera tawan di luar Jawa”
“Saya tidak takut”

Meijer menyalami Bung Karno dan pamit keluar. Dua hari kemudian Bung Karno dan rombongan dibawa ke Brastagi. Lalu mereka di pindahkan ke tepi danau Toba. Di danau Toba segerombolan pemuda Republik nekat mau membebaskan Bung Karno cs namun keburu ketahuan Belanda, mereka kemudian diberondong peluru dan tewas semua. Di Prapat ini juga Bung Karno mendengar bahwa dia mau di eksekusi mati. Hati Bung Karno gelisah bukan main saat mendengar desas desus dia mau dieksekusi dari salah seorang pelayan yang nangis-nangis karena mendengar kabar dari seorang serdadu Belanda Bung Karno mau dieksekusi. Bung Karno berjalan ke kamarnya dan membuka Al Qur’an dengan sembarang lalu menemukan sebuah ayat yang berbunyi : Mati Hidup manusia di tangan Allah SWT. Setelah itu hati Bung Karno tenang. Tak lama kemudian Bung Karno dipindahkan ke Bangka.

Sementara di Yogyakarta Sri Sultan HB IX terus menerus mendapat tekanan dari pihak Belanda. Beberapa intel Belanda melaporkan Sri Sultan HB IX terbukti menjalin kerjasama dengan beberapa perwira TNI juga menyembunyikan mereka di dalam Kraton. Sri Sultan menolak tuduhan Belanda dan meminta agar Belanda memeriksa sendiri saja ke dalam Keraton. Tapi bila pasukan Belanda berani masuk ke Keraton dia akan protes kepada kawan kecilnya yang sudah jadi Ratu Belanda, Juliana.

Kemudian datanglah Pro-Kontra itu yang menjadi perang sejarah sampai saat ini belum selesai. Yaitu Serangan Umum 1 Maret 1949. Untuk itu mari kita baca dulu dari versi Sri Sultan HB IX. Setelah penangkapan Belanda terhadap pemimpin-pemimpin Republik Indonesia, PBB mengalami kegemparan. Nehru, Perdana Menteri India menuding Belanda sudah melakukan perbuatan biadab tak tahu malu. Kemarahan Nehru ini didukung oleh anggota-anggota PBB lainnya. Yang paling galak adalah Australia, Australia meminta Belanda mematuhi etika hukum Internasional karena sudah berulang kali Belanda berunding dengan pihak Indonesia baik melalui pihak ketiga atau Komisi Tiga Negara dan Komite Jasa Baik dengan begitu Belanda mengakui eksistensi negara RI, sementara penyerbuan kemarin itu dinyatakan Belanda sebagai aksi Polisionil dengan menyamakan agresi militer dengan aksi polisionil berarti Belanda secara tidak langsung sudah menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Amerika Serikat sendiri lewat delegasinya mendesak Belanda mengadakan perundingan dengan pihak Indonesia seraya mengancam bila kelakukan Belanda tidak berubah maka dompet bantuan Amerika terhadap Belanda tidak akan terbuka lagi. 
“Belanda harus mematuhi peraturan-peraturan Internasional dan mengikuti cara-cara penyelesaian konflik yang terhormat”
 Belanda yang merasa terpojok dengan desakan negara-negara anggota PBB berteriak lantang “Republik Indonesia tidak ada lagi, buktinya sama sekali tidak ada perlawanan dari pihak kaum RI ketika pemimpin-pemimpinnya kami tangkap”

Sri Sultan mendengarkan perdebatan-perdebat an PBB ini baik-baik dari siaran BBC, ia mengambil kesimpulan bahwa harus diadakan serangan militer besar-besaran yang dapat membuktikan anggapan Belanda itu salah. Ia duduk terdiam dan berpikir apa bisa militer melakukan serangan terkonsolidasi. Sri Sultan HB IX meminta pendapat kakaknya Pangeran Prabuningrat apakah bisa militer dikonsolidasikan untuk melakukan serangan yang sedang ia pikirkan. Pangeran Prabuningrat mengusulkan agar Sultan memanggil salah seorang perwira TNI yang masih ada di sekitar Yogya. “Siapa, Latief Hendraningrat sedang di luar kota”
“Itu Komandan Wehrkreiss III, yang orangnya pendiam masih di sekitar Yogyakarta?”
“Yang mana?” tanya balik Prabuningrat.
“Itu lho yang berhasil rebut tangsi senjata Jepang di Kotabaru”
“Oh, Overste Suharto”
“Ya, Suharto…suruh orang Keraton hubungi dia untuk datang kesini, menyamar jadi Abdi Dalem Keraton saja”
“Baiklah” kata Prabuningrat.
Suharto datang diam-diam ke Keraton Yogya dengan menyamar menjadi Abdi Dalem (kisah Suharto menyamar menjadi Abdi Dalem ini sempat difilm-kan oleh Usmar Ismail di tahun 1950 dan masih versi Orisinil jauh dari kesan menjilat). 
Suharto dibawa Marsoedi sebagai perwira penghubung antara Suharto dengan Sri Sultan ke ruang khusus Sri Sultan untuk membicarakan kemungkinan serangan besar-besaran di Yogyakarta. Kejadian itu berlangsung tanggal 14 Februari 1949.
“Mas Harto duduklah” Jawab Sultan dengan bahasa Jawa halus.
“Baik Kanjeng Sinuwun” Jawab Letkol Suharto dengan menggunakan bahasa Jawa Tinggi yang biasa dibahasakan seorang hamba pada Paduka Rajanya.
“Mas Harto akhir-akhir ini keamanan kota Yogya tidak stabil bagaimana kamu bisa membereskannya supaya tidak ada lagi penjarahan-penjarahan di toko-toko dan perampokan-perampokan yang kabarnya juga menggunakan senjata, Belanda sendiri kewalahan terhadap aksi liar para perampok itu”
“Bisa Kanjeng Sinuwun, saya usahaken agar perampokan itu tidak ada lagi..”

Sri Sultan melihat ke arah radio dan kemudian matanya menerawang dalam-dalam. Ia tahu sedang diamat-amati intel Belanda namun penilaian Belanda sama sekali salah, ia diperkirakan akan memperjuangkan Yogya sebagai daerah otonom di bawah Belanda atau diam-diam ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Padahal apa yang dilakukan Sultan adalah bentuk pengabdian Raja Jawa terhadap kehendak sejarah. Dan Belanda kurang paham terhadap bentuk pengabdian ini. Sri Sultan betul-betul ingin mengabdi pada Republik Indonesia bukan mengejar ambisinya. Tangan kanan Sri Sultan memegang dagu-nya yang agak lancip itu lalu dia berkata pelan pada Letkol Suharto.
“Mas Harto apa bisa dilakukan serangan besar-besaran ke Yogyakarta?”
“Maksud Sinuwun?” Suharto balik bertanya.
“Serangan pendadakan agar Belanda tahu Republik masih ada”
“Hmmm…saya usahaken”
“Berapa pasukan yang kamu punya?”
“Kalau dihitung-hitung yang bisa saya kerahkan dari SubWehrkreis saya sekitar dua ribu orang”
“Hmmm…dua ribu cukup”
“Memang Sinuwun mau merencanakan apa?”
“Saya menginginkan agar TNI bisa masuk ke dalam kota dan merebut semua tempat yang dikuasai Belanda terutama gudang senjata yang ada di Pabrik Waston itu, juga beberapa titik penting seperti Stasiun Kereta Api, Jalan Malioboro dan Benteng Vredenburg”
Suharto terdiam sejenak dia berpikir dalam-dalam. Suharto adalah ahli strategi dia tidak akan mengambil keputusan bila keputusan itu tidak akan ia menangkan. Ia bukan tipe pengambil spekulasi yang untung-untungan ia harus paham situasi. Namun yang dihadapinya adalah Sri Sultan, Rajanya. Ia juga berpikir bahwa inti kekuatan pasukan Belanda adalah KNIL pribumi kebanyakan dari Ambon, yang juga agak tak yakin dengan Belanda, bagaimanapun orang-orang pribumi itu dalam hatinya memihak Republik. Yang ditakutkan Suharto justru pasukan Marinir Belanda yang sudah dididik di Virginia Amerika.
“Berapa jam yang dibutuhkan pasukan bantuan Belanda dari luar Yogya terutama yang di Semarang itu bisa tiba ke Yogya?”
“empat jam mungkin mereka akan sampai ke Yogya dan langsung membantu pertempuran”
“Kamu bisa kuasai Yogya selama enam Jam, Mas Harto?”
“Bisa Sinuwun”
“Kamu sanggup?”
“Sanggup sinuwun”
“Sekarang laksanakan” Sri Sultan adalah Menteri Pertahanan pada kabinet Hatta dia mengerti problem-problem kekuatan angkatan perang kita. Dan dengan strategi perebutan kota Yogyakarta diharapkan LN
Palar wakil Indonesia di luar negeri punya dukungan fakta bahwa Indonesia masih ada.

Suharto mengkonsolidasi pasukannya. Harto merasa senang karena pasukan-pasukannya masih utuh. Apalagi ada pasukan Pesindo eks pelarian peristiwa Madiun dibawah pimpinan Kapten Latief yang terkenal berani (Kapten Latief ini kelak tersangkut perkara G 30 S saat peristiwa terjadi dia berpangkat Kolonel dan menjabat Komandan Brigade Infanteri Kodam V Jaya). Di samping itu ada pasukan dari Pramoedji yang ada di Godean, Marsoedi dan Amir Moertono. Pemuda-pemuda Pakuningratan no.60 juga siap membantu mereka ini tergabung dalam Pesindo dan dididik oleh jago Sosialis Djohan Sjahroezah, Letkol Suharto jaman awal kemerdekaan sering juga ke Pathook disitu, juga ada Sjam Kamaruzaman, seorang polisi yang juga kemudian menjadi intel dan banyak tahu perkembangan politik (pada peristiwa G 30 S, Sjam mengambil peranan penting dan dianggap missing link dari rangkaian kejadian di Lubang Buaya pada pagi dini hari 1 Oktober 1965). Di Pathook-lah nama Suharto mulai mengorbit dia diperintahkan oleh pemerintah Republik untuk melakukan serangan militer ke gudang senjata di Kotabaru, tanggal 7 Oktober 1945. Kapten Suharto -yang juga jebolan sekolah KNIL di Bogor- memimpin serangan ke Kotabaru dan sukses besar. Inilah yang kemudian mendukung kelancaran karir Suharto sampai ia diangkat menjadi komandan pasukan pengamanan kota Yogyakarta, di mana dia banyak berjumpa dengan penggede-penggede Republik yang baru saja hijrah dari Jakarta ke Yogya. Pada penangkapan Jenderal Sudharsono yang menentang pemerintahan kabinet Sjahrir dan bersimpati pada Tan Malaka, Suharto yang mengatur dan ini
membuat Presiden Sukarno menyenangi perwira yang sering disebutnya `Koppeg’ ini.

Sejak usainya geger Madiun 1948 yang dilanjutkan dengan langkah-langkah reorganisasi di tubuh tentara termasuk Divisi Diponegoro. Suharto sendiri memimpin Brigade III yang terkenal sebagai `Brigade Suharto’. Salah satu tugas penting Brigade III ini adalah mengamankan kota Yogyakarta, Suharto sebagai komandan Brigade menugaskan dua dari empat Batalionnya sebagai pasukan kota Yogyakarta. Unsur-unsur Batalion pengaman Yogyakarta terdiri dari taruna-taruna Akmil, unsur-unsur Angkatan Darat dan Angkatan Laut, Polisi Militer dan sejumlah sisa laskar Brigade Martono yang sudah di demobilisasi. Sementara pasukan di bawah Sudarmo dan Sruhardoyo ditempatkan di Bagelen, pasukan ini berperan penting nantinya pada serangan umum 1 Maret 1949. Namun sesaat sesudah agresi militer Belanda akhir tahun Desember 1948 Divisi III Diponegoro dirombak lagi oleh Panglimanya Kolonel Bambang Sugeng, Letkol Suharto sendiri kebagian tanggung jawab menjadi Komandan Wehrkreis (WK) III yang membawahi enam SWK (Subwehrkreis) : Satu bertanggung jawab untuk wilayah sekitar kota, dua untuk wilayah sekitar Bantul, dua untuk wilayah Sleman dan satu lagi bertanggung jawab atas daerah Wonosari dan Maguwo. Suharto sendiri mendirikan markasnya berpindah-pindah namun dia sering terlihat di sekitar pegunungan Menoreh Bantul. Kolonel TB Simatupang pernah mengunjungi markasnya di Gamping dekat perbatasan barat kota.

Lemahnya pertahanan kota Yogyakarta bukan tidak menimbulkan protes. Rakyat banyak kecewa karena lemahnya pertahanan kota Yogya oleh pasukan TNI dan tudingan ini diarahkan pada komandan kota Yogya, Suharto. Letkol Abdul Latief Hendraningrat komandan pasukan pengawal Kepresidenan (seorang pengerek bendera merah putih pada proklamasi 17 Agustus 1945) sendiri terbengong-bengong melihat sama sekali tidak adanya pasukan yang membangun barikade di sekitar Malioboro pada saat penyerbuan pasukan Belanda. Letkol Latief dengan mengendarai jeepnya ke rumah Jenderal Sudirman dan ikut Jenderal Sudirman mengungsi keluar kota setelah tahu keputusan Presiden Sukarno untuk menyerahkan diri pada pasukan Belanda. Kepada perwira-perwira di dalam rumah Jenderal Sudirman Latief menanyakan “Dimana pasukan-pasukan Yogya, mana Suharto?”.

AH Nasution pun jengkel atas kelambanan pasukan dalam kota Yogya. Di kemudian hari pada tahun 1990 dalam wawancaranya dengan wartawan asing ia mengkritik Suharto terlalu lamban dan tidak bisa cepat melakukan antisipasi terhadap serangan mendadak Belanda atas kota Yogya. AH Nasution membangun markasnya di sekitar Prambanan, namun ia tidak bisa melakukan koordinasi terhadap pasukan-pasukan di sekitar Jawa Tengah, inisiatif tempur diserahkan pada komandan unit masing-masing. Dan memang sepanjang awal tahun 1949 serangan-serangan ke dalam kota Yogyakarta terus dilancarkan namun serangan ini banyak dari pasukan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) di mana Kahar Muzakar komandan Brigade XVI yang terkenal nekat sering melakukan gempuran-gempuran ke dalam kota Yogya. Tercatat sepanjang bulan Januari-Februari Pasukan Brigade T Belanda tewas 157 orang dan 194 terluka parah.

Disamping menerima Suharto, Sri Sultan terus mengatur gerakan bawah tanah, termasuk membongkar penutup-penutup besi gorong-gorong kota yang sudah di las Belanda kobang-lobang gorong kota digunakan untuk jalur penyusupan dadakan pada saat perang besar yang sudah direncanakan. Sri Sultan juga mengatur pengiriman senjata kepada pasukan-pasukan Republik, beberapa senjata selundupan berhasil masuk ke dalam kota. Sesungguhnya sejak pengungsian Jenderal Sudirman ke pedalaman Jawa Tengah, masih banyak tentara republik yang berkeliaran di dalam kota, mereka menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Dan perintah penyerangan itu berasal dari Sri Sultan. Disinilah makna ucapan Bung Karno `Bung Sultan tetap tinggal di Yogya’ :
  • Sultan adalah Pemimpin Republik Indonesia, anggota Kabinet Hatta sebagai Menteri Pertahanan. Ini artinya Sri Sultan HB IX adalah wakil sesungguhnya Republik di ibukota Yogyakarta. Dan berarti pemerintahan Negara RI di Ibukota Yogyakarta masih ada.
  • Sebagai bentuk pengalihan perhatian agar perhatian Belanda terkecoh bahwa kekuatan RI sesungguhnya ada di Keraton Yogyakarta, maka dibentuklah Pemerintahan Darurat RI yang juga merupakan pemerintahan sah. Namun efektivitas PDRI tidak berjalan baik karena berada di luar Jawa disamping beberapa pasukan PDRI masih sibuk bertempur melawan kekuatan Mollinger.
  • Bung Karno tahu bahwa Sri Sultan HB IX jagonya gerakan bawah tanah dan dia punya senjata pamungkas yaitu : Pertemanannya dengan Sri Ratu Juliana, dimana Bung Karno sendiripun tidak bisa mendekat pada Sri Ratu karena cap kolaborator di Jaman Jepang.
  • Dengan mempertahankan Sri Sultan di dalam kota ini berarti komando pemerintah masih di tangan Sultan. Sudirman yang orang Jawa pasti akan memandang Sri Sultan dan tidak akan melakukan serangan yang kurang terpadu. Semua serangan di koordinasikan pada satu titik, yaitu : Merebut kota Yogyakarta.
Keempat faktor inilah yang merupakan peranan paling penting dalam memahami perjuangan Sri Sultan HB IX dimana pada saat yang genting dia menyelamatkan eksistensi Republik Indonesia. Untuk menghargai peran Sri Sultan HB IX ini, pemerintah RI menugaskan Sri Sultan HB IX menerima surat dan menandatangani pengakuan kedaulatan RI pada tanggal 29 Desember 1949 di Istana Merdeka. Beliau pula yang menjemput Bung Karno dari Kemayoran untuk bersama-sama menuju Istana Kemenangan bangsa Indonesia, Istana Merdeka. Kedatangan dua orang ini disambut jutaan penduduk Jakarta dan luar Jakarta yang kemudian menyemut mengerumuni mobil yang ditumpangi Bung Karno dan Sri Sultan.
Klimaksnya, dengan mengenakan pakaian putih-putih dan sepatu putih Bung Karno berteriak lantang : Alhamdullilah. ..sekarang kita MERDEKA!!!!!!

Serangan Umum Versi Suharto dan Versi lainnya

Namun benarlah kata banyak orang, sejarah tergantung siapa yang berkuasa. Ketika Suharto berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia. Ia beranggapan bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 itu murni merupakan ide dari Suharto dan bukan dari siapa-siapa ini berarti menafikan peran atasannya sendiri di luar Sudirman : Sri Sultan HB IX, AH Nasution, dan Bambang Sugeng. Tiga orang ini merupakan atasan Suharto dan tentunya tahu apa yang terjadi sesungguhnya pada peristiwa 1 Maret 1949. Sri Sultan HB IX adalah Menteri Pertahanan pada kabinet Hatta, orang yang berperan penting dalam reorganisasi ABRI, AH Nasution adalah Panglima Komando Djawa, seluruh pasukan di Djawa di bawah komando Nasution, sementara Bambang Sugeng adalah Panglima Divisi Djawa Tengah, berarti Bambang Sugeng merupakan atasan langsung Suharto. Tidak tertutup kemungkinan di luar sepengetahuan Suharto, Sri Sultan juga menjalin kontak dengan Kolonel Nasution, Bambang Sugeng dan tentunya Sudirman. Sri Sultan HB IX juga paham kekuatan tentara-tentara RI yang menyusup dan tinggal di dalam kota. Sementara Suharto hanya satu diantara beberapa elemen strategi Sultan. Tapi ketika Suharto berhasil menjabat menjadi Presiden dengan santai Suharto berkata “Tidak percaya toh, bahwa yang melakukan inisiatif serangan adalah seorang komandan Brigade”

Suharto mengakui bahwa ia menemui Sri Sultan, tapi pertemuan itu berlangsung sesudah serangan selesai bukan menjelang serangan. Dan apa yang berlangsung dari jam 6.00 Pagi sampai 12.00 siang adalah ide dia untuk menguasai Yogyakarta agar menjadi bahan perdebatan oleh LN Palar di PBB. Pernyataan ini menimbulkan kehebohan luar biasa bahkan berlangsung sampai saat ini dimana pertanyaannya berpusar pada : Siapa pencetus ide serangan umum 11 Maret 1949.

Tahun 1985 ketika Film Janur Kuning (Produksi thn. 1979) sedang asyik ditonton orang Indonesia ada kehebohan di muka publik siapa pemeran sesungguhnya dalam peristiwa Serangan umum 1 Maret 1949. : Suharto, Sri Sultan HB IX, Bambang Sugeng atau Nasution. Kejadian ini dimulai ketika eks Walikota Yogyakarta Soedarisma Poerwokoesomo yang menjabat dari tahun 1947-1966 dalam wawancaranya dengan Harian Suara Merdeka terbitan Semarang tanggal 15 Oktober 1985 mempertanyakan peran Suharto? Kehebohan itu ditanggapi dingin oleh Suharto dengan menantang “Tanyakan saja kepada yang masih hidup, apakah mereka memberikan komando Serangan Umum 1949 atau tidak?”

Namun Sri Sultan HB IX dengan bahasa halus membantah serangan umum itu berasal dari Suharto ia sendiri berkata pada Oei Tjoe Tat salah seorang Menteri Negara era Demokrasi Terpimpin yang kemudian ditulis dalam buku `Memoar Oei Tjoe Tat, Pembantu Presiden Sukarno’ 
Kutipannya begini :
“Gimana Toh, Apa mungkin seorang dalam hutan, lagi pula sedang bergerilya, punya kesempatan mengikuti dengan cermat siaran-siaran radio BBC, apalagi dalam bahasa asing? Apa waktu itu orang sudah mahir berbahasa asing? Sayalah yang semula membicarakan gagasan itu dengan Jenderal Sudirman yaitu mendapatkan ijinnya untuk kontak langsung dengan Suharto, ketika itu Suharto berpangkat Mayor. Gagasan ini kelak berwujud Operasi enam Jam di Yogya”

Ingatan Sri Sultan bahwa Suharto waktu itu berpangkat Mayor bukan Letkol karena memang jabatan Letkol yang diberikan tahun 1946 belum dipastikan legalitasnya. Jabatan Suharto menjadi Letnan Kolonel legal baru diputuskan pada awal tahun 1950.

Namun diluar arus Suharto-Sri Sultan sebagai penggagas Serangan Umum, ada versi lain yaitu dari TB Simatupang bahwa serangan umum adalah gagasan dari hasil diskusi antara TB Simatupang dengan Kolonel
Bambang Sugeng Panglima Divisi III Jawa Tengah.

Serangan Umum 1949

Terlepas dari `perang sejarah’ siapa penggagas serangan umum Yogyakarta, serangan ini memiliki dimensi tempur yang dahsyat untuk perang dalam kota. Baik Belanda maupun pihak Indonesia belum sepenuhnya berpengalaman dalam perang head to head ini. Sebelum perang kota 1 Maret 1949, sekelompok pasukan di bawah pimpinan seorang Sersan (dalam film Janur Kuning diperankan dengan baik oleh Amak Baldjun) menyerang ke dalam kota. Sersan itu lupa bahwa tahun 1949 adalah tahun kabisat jadi bulan februari habis sampai tanggal 29 bukan tanggal 28. Penyerbuan ini membuat tiga orang tewas di pihak TNI namun Belanda belum sadar akan ada serangan besar-besaran pada pagi hari 1 Maret 1949.

Sri Sultan sendiri sejak dua minggu sebelum hari H mulai membuka pintu Keraton, banyak tentara TNI yang menyusup ke dalam kota berlindung di balik tembok-tembok keraton yang tebal itu dan menyiapkan senjatanya. Kompleks keraton diam-diam dijadikan pusat serangan dimana perwira-perwira banyak berlindung ke dalam keraton, sementara di sekitar Malioboro dan pusat kota lainnya mulai berdatangan tentara-tentara yang sudah menyamar. Di sekitar Lempuyangan, Kadipiro, Kotabaru dan Kali Code banyak penyusup sudah mempersiapkan diri. Penyusupan sendiri sudah berlangsung selama dua minggu sebelum hari H. Suharto memutuskan untuk membuka markasnya di sektor barat Yogya, di daerah Godean disitu ada Mayor KRIS HN Ventje Sumual yang memegang sektor barat kota. Di sektor utara dipegang Mayor Kusno sementara di timur dipegang oleh Batalyon Sujono. Amir Murtono dan Marsudi ditugaskan mengkonsolidasi pasukan yang bercerai berai di dalam kota.

Tanda serangan dimulai pada saat sirene jam malam mulai berbunyi. Titik-titik kekuatan pasukan Brigade T (Brigade T adalah pasukan pimpinan Van Langen yang menguasai garis pertempuran Yogyakarta-Magelang-Temanggung). Tembakan pertama dimulai di sekitar stasiun Tugu. Di sana Pos-Pos Belanda banyak bertebaran dan ada konsentrasi kekuatan besar di sekitar Stasiun Tugu. Belanda yang dikejutkan serangan dadakan ini membalas dengan tembakan asal-asalan. Beberapa pasukan keluar dengan menggunakan panser dan berjalan masuk ke arah Tugu Malioboro namun belum sampai tugu pasukan belanda yang hanya berkekuatan setengah kompi itu diserang sengit kekuatan dari arah toko-toko dan perumahan penduduk. Perwira Belanda yang bergerak dengan jeepnya ke arah utara kota terperangah karena dimana-mana sudah berkibar bendera merah putih sementara beberapa pasukan Belanda di pos-pos kecil terjebak pertempuran sengit. Jalan-jalan dipasangi kayu, kursi, tempat tidur dan pohon-pohon yang ditebangi untuk menghambat lajunya pasukan Belanda. Di atas pohon, di dalam parit, di halaman-halaman rumah penduduk dan di balik sumur tiba-tiba banyak tentara TNI bermunculan, pertempuran sampai masuk ke lorong-lorong sempit di dalam kota. Kejar-kejaran terjadi bahkan sampai ada perkelahian fisik antara tentara Belanda dengan prajurit TNI yang masing-masing menggunakan sangkur.

Menjelang jam 7.00 pagi pertempuran sengit terjadi di sekitar Pabrik Waston tempat amunisi Belanda banyak tersimpan tidak sampai satu jam pasukan Belanda bisa dipukul mundur. Benteng Vredenburg pun berhasil direbut tentara RI. Sri Sultan duduk hatinya tegang bersama dengan kakaknya Pangeran Prabuningrat di Siti Hinggil ia berkali-kali disambangi perwira-perwira TNI melaporkan jalannya pertempuran. 

Belanda mengarahkan serangannya ke Keraton karena banyak laporan yang datang ke meja perwira Belanda bahwa pasukan TNI banyak bersembunyi di sekitar Buiten Keraton. Di sekitar alun-alun utara Keraton Yogya banyak konsentrasi pasukan TNI.

Perang besar juga terjadi di wilayah barat, bahkan wilayah ini sangat sulit ditundukkan dalam beberapa jam pasukan Belanda mundur dari sektor barat dan berlari ke tengah kota namun sekitar seratus tentara TNI berhasil mengejar mereka dan tembak-menembak terjadi di sekitar tengah kota sampai dekat Grand Hotel. Di Grand Hotel itulah Kahin tinggal, Profesor ilmu politik Indonesia dari Amerika Serikat paling legendaris yang mencatat semua kejadian pada pagi hari tanggal 1 Maret 1949.

Suharto dalam otobiografinya mengklaim bahwa dia memimpin serangan langsung, bahkan dengan gagah dia berada di depan front pertempuran dengan senapan otomatis Owen kebanggaannya. Anak buahnya mengira Pak Harto kebal peluru karena berani bertempur di garis depan. Tapi apa benar Pak Harto bertempur di garis depan, menurut Kolonel Abdul Latief dalam pledoinya yang dibacakan pada Mahkamah Militer pada
tanggal 1 Agustus 1978 dia berkata dalam pembelaannya :

“….Tepat pada tanggal 1 Maret pasukan saya mendapat perintah dari komandan Wehrkreis Letkol Suharto, untuk menyerang dan menduduki sepanjang jalan Malioboro, dari mulai Stasiun Tugu sampai dengan Pasar Besar dekat Istana Yogyakarta. Setelah dapat menduduki seperti yang telah diperintahkan gedung-gedung besar serta toko-toko sedianya akan saya bakar sesuai dengan politik bumi hangus. Akan tetapi mengingat keadaan sekeliling adalah rumah-rumah rakyat yang terdiri dari bambu yang mudah terbakar, maka tersebut saya batalkan.

Pertempuran terus berlangsung dan tentara Belanda mengadakan serangan balas, pertempuran terjadi antar rumah ke rumah, dan akhirnya pasukan saya mundur keluar kota, dan sebagian masih di dalam kota. Korban 12 orang, 5 orang gugur dan 50 orang pasukan pemuda-pemuda gerilya kota gugur ditembak tentara Belanda.

Setelah dapat keluar kota di desa Sudagaran atau Kuncen kira-kira antara pukul 12.00 siang bertemulah saya dengan komandan Wehrkreise III Letkol Suharto yang sedang menikmati makan soto babat. Setelah melaporkan hasil pelaksanaan serangan umum itu, maka komandan memerintahkan lagi, agar tentara Belanda yang berada di Makam Kuncen itu dihalau/diserang sekalipun saya belum sempat konsolidasi, dan
pasukan saya hanya tersisa 10 orang, perintah saya laksanakan. Dan kemudian komandan sektor Letkol Suharto kembali ke pangkalan… ….”

Apa yang diucapkan oleh Latief dalam pledoi ini menyiratkan Suharto tidak berada di garis depan pada waktu itu. Yang berjibaku ya anak buah Suharto seperti Latief, Pramuji, Sujono, Marsudi dan Ventje.Namun bagaimanapun harus diakui serangan umum 1 Maret 1949 merupakan strategi yang sangat cerdas, walaupun korban gugurnya 192 sampai 375 orang dari pihak TNI sementara di pihak Belanda 6 orang tewas. Perang dalam kota berakhir ketika pasukan khusus Gajah Merah pimpinan Kolonel Van Zanten yang datang dari Semarang memasuki dalam kota Yogya, semua pasukan TNI ditarik mundur namun sampai malam hari masih ada saja tembakan-tembakan gelap membahana dari rumah-rumah penduduk. Tujuan politik perang itu tercapai Belanda harus mengakui di depan forum PBB bahwa Republik masih ada.

Setelah perang itu berlangsung beberapa perundingan dan diam-diam Amerika Serikat menekan Belanda untuk segera keluar dari Yogyakarta. Belanda akhirnya menyerah dan keluar dari Yogya sekitar bulan Juni,
tanggal 8 Juni 1949 Sri Sultan atas perintah PDRI menghentikan semua pertempuran bersenjata dengan RI. Atas nama PDRI Sri Sultan mengadakan pengumuman gencatan bersenjata. Dan pada tanggal 30 Juni 1949 Sri Sultan menandatangani penarikan pasukan Belanda dari kota Yogya. Dalam cerita penarikan pasukan ini ada legenda yang banyak diyakini orang Yogya. Bahwa Sri Sultan bisa menjadi enam orang di tempat yang bersamaan, ini karena dalam tempo yang sama persis Sri Sultan ada di enam sektor yang lokasinya berjauhan.

Suharto yang memimpin serangan umum mendapat surat selamat dari perwira-perwira lainnya dan serangan umum atas Yogya menjadi inspirasi pada perwira-perwira lainnya untuk melakukan serangan-serangan ke markas Belanda. Sudirman sendiri menulis surat kepada AH Nasution bahwa : “Suharto merupakan bunga pertempuran” .

Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Hatta serta rombongan lain yang ditangkap akhirnya dilepaskan Belanda dan kembali ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949 disambut langsung dengan Sri Sultan. Di kota
Yogya semuanya di bawah kendali penuh 2.000 orang pasukan di bawah komando Suharto. Pada awalnya Sri Sultan meminta agar Yogyakarta dibawah pengawasan Kepolisian yang berkekuatan 600 orang, namun
Suharto menolak karena dianggap keadaan belum sepenuhnya aman. Penolakan Suharto ini merupakan kemenangan politis Suharto terhadap Sri Sultan dan Jenderal Djatikusumo untuk menguasai kota Yogya setidak-tidaknya sampai Jenderal Sudirman turun gunung. Jenderal Sudirman yang enggan turun gunung karena kecewa dengan sikap Sukarno yang mau menyerah pada Belanda, dikirim surat berkali-kali oleh penggede Republik agar mau turun gunung tapi Sudirman masih ngambek. Barulah ketika Sri Sultan mengirim surat melalui Suharto agar Sudirman turun gunung dan bertemu dengan Presiden, Sudirman menuruti kemauan Sultan atas dasar hormatnya pada Raja Jawa. Di Istana Yogyakarta, Sri Sultan menyambut Sudirman dan mengantarkannya pada Bung Karno. Kedua tokoh ini-pun berpelukan sambil menangis. Kemudian Sudirman diajak melihat parade pasukan Suharto di alun-alun Yogyakarta bersama Pemimpin PDRI yang telah menyerahkan mandat kekuasaannya pada Bung Karno Sjafrudin Prawiranegara. Suharto terlihat menahan air mata ketika pasukan kehormatan berjalan menghormat pada Sudirman.

Apapun yang terjadi perang 1 Maret 1949 merupakan sebuah episode penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peran Sri Sultan HB IX tidak bisa dilupakan sebagai tokoh yang sederhana Sri Sultan dipuja dimana-mana, bahkan di Minangkabau kehadiran Sri Sultan disambut penuh haru, ribuan rakyat Minang mengelu-elukan Sri Sultan yang berkunjung ke Padang, disana Sri Sultan dibopong dan teriakan “Merdeka…Merdeka. ..Merdeka” berkumandang dimana-mana. Sri Sultan bukan saja tokoh lokal Jawa, tapi kepemimpinannya diakui secara nasional.

Kepribadian dan Karir Politik Sri Sultan

Ada cerita-cerita rakyat mengenai Sri Sultan tentang kesederhanaannya yang banyak beredar di kalangan rakyat Yogya. Sri Sultan ini kegemarannya naik mobil baik jenis besar maupun kecil. Dulu yang namanya angkutan kota tidak ada seragamnya, semua bentuknya sama. Ketika Sri Sultan sedang berjalan-jalan dengan mobilnya ia dihentikan oleh seorang perempuan separuh umur. Ibu-ibu itu mengira Sri Sultan adalah sopir angkutan sayur. Mobil berhenti, Sri Sultan bertanya “Ada apa Bu…?”
“Ini Pak Sopir tolong naikkan karung-karung sayur saya mau antar barang ini ke Pasar Beringhardjo” 
Sri Sultan yang mengenakan kaca mata hitam tersenyum dan turun ia pun mengangkut karung-karung sayur
itu. Setelah karung-karung sayur dinaikkan Ibu itu juga naik ke dalam mobil dan duduk di belakang. Setelah sampai depan pasar Beringhardjo Sri Sultan turun dan mengangkut karung-karung itu sampai ke dalam pasar, si Ibu itu berjalan di depannya. Seorang mantri polisi memperhatikan dengan cermat kejadian itu. Setelah karung-karung sayur ditaruh ditempatnya, Ibu itu bertanya “Berapa ongkosnya, Pak Sopir?”
“Wah…ndak usah Bu”
“Walaah…Pak Sopir…Pak Sopir kayak ndak butuh uang saja?”
“Sudah tidak bu terima kasih”
“Lho, kurang tho…biasanya saya ngasihnya juga segini?” kata Ibu itu yang mengira sopir itu menolak uangnya karena kecewa pemberiannya kurang.
“Ndak…apa-apa Bu, saya cuma membantu”
“Sudah merasa kaya, tho..Pak Sopir?, ndak mau terima uang” kata si Ibu sinis. Sri Sultan tersenyum dan kemudian pamit keluar pasar. Saat Sri Sultan pergi si Ibu masih saja ngedumel “Dasar Sopir gemblung dikasih duit ndak mau” ujar Ibu itu sambil memberesi karung-karung sayurannya. Mantri Polisi yang sedari tadi mengamati peristiwa itu mendekati Ibu pedagang sayur itu.
“Bu…tadi Ibu tahu bicara dengan siapa?”
“Dengan…siapa. ..ya dengan Pak Sopir..piye tho sampeyan iki (gimana sih kamu)”
“Ibu tahu, tadi ibu bicara kaliyan sing nduwe ringin kembar kuwi. (tadi ibu bicara dengan yang punya beringin kembar itu)” Mantri Polisi itu menunjuk ke arah beringin kembar di depan keraton Yogya.
Blaar …..kepala si Ibu bagai disambar petir….ia kaget langsung pingsan dan kabarnya dia meninggal di tempat.

Sri Sultan juga sering mengendarai mobil sendiri dari Yogya-Jakarta kadang-kadang ke Bandung. Di tengah jalan dia dihentikan seorang polisi untuk pemeriksaan surat-surat. Sang Polisi sinis karena mengemudi kok ndak sopan. Sri Sultan cuman pake celana kolor dan kaos singlet saja. Saat melihat Rebuwesnya sang Polisi kaget setengah mati dan langsung berdiri hormat langsung mempersilahkan jalan, Sri Sultan tertawa dan mengangguk pada Pak Polisi.

Nama Sri Sultan sempat mencuat lagi karena ternyata dia menjadi sasaran utama pembunuhan dari pemberontakan eks KNIL yang dipimpin Westerling. Rencananya setelah melakukan gerakan di Bandung Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) akan masuk ke Jakarta dan membubarkan sidang kabinet serta membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan HB IX. Namun gerakan Westerling berhasil digagalkan pasukan Siliwangi dan hanya bergerak di sekitar Lengkong serta Bandung kota.

Sepanjang masa-masa kabinet Parlementer dan Demokrasi terpimpin Sri Sultan tidak begitu aktif lagi di politik. Kegiatannya yang sering diliput media adalah menjadi Ketua Pramuka. Anak-anak Pramuka era 60-
an, termasuk Bondan Winarno (Jago makan di Wisata Kuliner itu) memanggil Sri Sultan dengan sebutan “Kak Sultan”. Nama Sri Sultan muncul lagi setelah G 30 S dan kekuasaan pelan-pelan dipreteli Pak Harto.

Rupanya Pak Harto kurang pede dengan dirinya untuk berhadapan sendirian dengan Bung Karno. Untuk itu di bidang politik luar negeri ia menggandeng Adam Malik dan di dalam negeri sebagai kharisma ia meminjam Sri Sultan, jadilah Triumvirat Orde Baru yang terkenal itu : Suharto, Sri Sultan HB IX dan Adam Malik. Waktu itu sepertinya Sri Sultan tidak begitu paham dengan apa yang terjadi sesungguhnya dengan Indonesia dan hal ini bukan Sri Sultan saja yang mengalami banyak tokoh masih dalam suasana kalut. Yang jelas saat itu adalah dimulainya pergeseran antara kekuasaan Sukarno ke Suharto. Dan tampaknya Sri Sultan memihak pada Suharto dengan Orde Barunya. Bahkan Sri Sultan tidak sabar dengan tindakan hati-hati Suharto terhadap Bung Karno yang dinilai kurang tegas dan lamban. 
Dalam otobiografinya Jenderal Kemal Idris menuturkan :
“Saya masih ingat, pada tahun 1966, ipar saya Widjatmiko datang ke Kostrad mengabarkan bahwa saya dipanggil Sri Sultan Hamengkubuwono IX di rumah Mashuri di Jalan Agus Salim, Jakarta. Disana sudah menunggu Sri Sultan, Adam Malik dan Mashuri.
“Kemal kamu take over, ambil alih kekuasaan dari tangan Suharto” ujar Sri Sultan.
(Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi hal.252)

Rupanya Sri Sultan tidak sabar dengan permainan Jenderal Suharto menghadapi Bung Karno. Jauh-jauh hari kemudian ia keadaan menjadi jelas kenapa Suharto begitu hati-hati menghadapi Bung Karno dan terlalu lama maen petak umpet untuk mempreteli kekuasaan Sukarno yang baru berhasil dimenangkannya tahun 1967. Ternyata Suharto mendeteksi siapa lawan, siapa kawan. Karena bagi Suharto jelas Sukarno sudah kalah, PKI habis maka musuh selanjutnya bukan dari pihak lawan tapi yang dibelakangnya namun berpotensi tidak loyal termasuk kelompok Jenderal elang yang dikemudian hari nasibnya kurang baik di bawah kekuasaan Orde Baru terutama Jenderal HR Dharsono, pendukung fanatik Orde Baru. Yang masa tuanya mengenaskan dan sempat dituduh oleh Kopkamtib terlibat pengeboman Borobudur juga disangkutkan pada kasus Priok.

Jika Andi F. Noya mengira-ngira apa maksud Sultan sesungguhnya menolak menjadi Wapres di hari-hari penentuan 1978 yang kemudian digantikan oleh Adam Malik adalah masalah peristiwa Malari 1974 atau masalah korupsi dimana keluarga Presiden mulai banyak terlibat sesungguhnya kurang begitu tepat. Ada keyakinan di kalangan politisi-politisi senior dan orang yang ngerti politik bahwa Sri Sultan menolak menjadi Wapres di tahun 1978 karena menolak ia ikut rezim Suharto yang berlumuran darah.

Apa yang dimaksud berlumuran darah. Mengingat kejadiannya tahun 1978 berarti kemungkinan yang dimaksud Sri Sultan adalah masa pasca G 30 S dimana banyak pembantaian terjadi dan alur cerita G 30 S yang sebenarnya sudah mulai terkuak terutama dari saksi-saksi sejarah. Apalagi pada tahun 1978 banyak tawanan dari Pulau Buru dibebaskan. Sejak tahun 1978 Sri Sultan menolak aktif berpolitik kecuali sebagai Ketua KONI.

Beliau meninggal awal September 1988 di Amerika Serikat dan prosesi pemakamannya di tangisi jutaan orang Indonesia, mengingatkan pada prosesi pemakaman Bung Karno dan Bung Hatta yang juga ditangisi jutaan orang Indonesia. Saat mangkatnya Raja Agung Binatara itu sepertinya hubungan Suharto dan Sri Sultan HB IX kurang begitu baik.

Suharto sendiri sambil lalu saja memperhatikan mangkat Rajanya itu. Kemudian Sri Sultan HB IX digantikan Herdjuno Darpito yang wajahnya di tahun 1988 mirip dengan Deddy Mizwar bintang fim muda yang sedang
naik daun karena film `Nagabonar’ dan `Kejarlah Aku Kau Kutangkap’. Satu-satunya foto putera Sri Sultan HB IX adalah Herdjuno Darpito ini mengingatkan pada otobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams dimana hanya Megawati yang di potret berdua bersama Bung Karno.
Akankah Mas Djun atau Sri Sultan Hamengkubuwono X maju lagi ke kancah politik nasional? Waktulah yang akan menjawab.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ShareThis