Foto-Foto Madiun tempo doeloe
Beberapa peperangan yang terjadi di Madiun jaman kolonial
Situasi Perang Trunojoyo dan Suropati di Madiun
Pada tahun 1676
terjadi pemberontakan Trunojoyo terhadap Amangkurat I di Mataram yang
bekerjasama dengan VOC. Trunojoyo, pangeran dari Madura ini banyak
mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Setelah berhasil menguasai
hampir separoh wilayah Mataram, pasukan Trunojoyo menyerbu istana
Mataram di Plered dan berhasil menguasai Mataram, hingga Sri Susuhunan
Amangkurat I harus menyingkir ke barat, sampai di Tegalwangi dan
meninggal di sana (terkenal dengan Sunan Tegalarum), menggantikan
ayahnya Pangeran Adipati Anom bergelar Susuhunan Amangkurat II, segera
bersekutu dengan VOC untuk memberantas Pasukan Trunojoyo. Akhirnya tahun
27 Desember 1679, Benteng pertahanan terakhir Trunojoyo dikepung 3000
prajurit VOC, Aru Palaka (Makassar) dan Mataram, Trunojoyo menyerah di
lereng Gunung Kelud.
Pada waktu perang Trunojoyo ini, Madiun di
bawah Bupati Kyai Irodikromo atau Pangeran Adipati Balitar (1645-1677)
kemudian digantikan putranya Pangeran Tumenggung Balitar Tumapel
(1677-1703). Menurut catatan VOC , dalam perang ini rakyat Madiun
bersikap statis walaupun dalam hatinya mereka lebih memihak perjuangan
Trunojoyo melawan Susuhunan Amangkurat II yang bersekutu dengan VOC.
Dukungan rakyat Madiun terhadap Trunojoyo hanya berupa dukungan moral
dan logistik pada pasukan Trunojoyo yang berlindung di wilayah Madiun.
Tanggal
5 Nopember 1678, pasukan Amangkurat II dengan jumlah besar yang terdiri
dari Prajurit Makassar, Malaya, Ambon dan juga Jawa setelah singgah di
Desa Klagen Gambiran kemudian berkemah di pinggir Kali Madiun di Desa
Kajang. Disini pasukan Belanda dibawah Kapten Tack bergabung. Hari
berikutnya mereka meneruskan pengejaran terhadap Trunojoyo ke timur, di
Desa Tungkur (saradan) Pasukan Trunojoyo mengadakan perlawanan sengit
hingga pasukan Mataram terpaksa bermalam di Caruban.
Tanggal 17
Nopember 1678 , pasukan gabungan ini menyeberangi sungai Brantas untuk
masuk ke wilayah pertahanan Trunojoyo di Kediri.
PERANG SUROPATI
Untung
Suropati adalah pelarian dari Banten, karena telah menghancurkan
Pasukan Kuffeler yang akan menjemput Pangeran Purbaya untuk dibawa ke
Benteng Tanjungpura. Maka Untung Suropati menjadi buronan Kompeni
Belanda. Kemudian Untung Suropati pergi ke barat sambil mengantar istri
Pangeran Purbaya ”Gusik Kusuma” pulang ke Kartasura. Di Kartasura
Suropati di terima baik oleh Sri Susuhunan Amangkurat II. Pebruari 1686
Kapten Francois Tack terbunuh oleh Suropati di halaman istana Kartasura,
ketika tentara VOC akan menangkap Suropati. Karena takut pada VOC,
Amangkurat II merestui Suropati yang di bantu Patih Nerangkusuma (ayah
Gusik Kusuma) pergi ke timur untuk merebut Kabupaten Pasuruan (Bupati
Anggajaya). Dalam hal ini rakyat Madiun mendukung Untung Surapati baik
berupa harta-benda maupu bantuan prajurit Madiun. Maka VOC mendapat
hambatan yang serius ketika melakukan pengejaran Pasukan Surapati ke
timur melewati wilayah Madiun. Maka dengan demikian secara langsung
Madiun ikut berperang melawan Kompeni Belanda, banyak pemimpin Madiun
yang menjadi senopati perang melawan tentara VOC, diantaranya Sindurejo
(kemudian menetap di Ponorogo), Singoyudo kemudian menetap dan menjadi
cikal bakal Desa Candi, Bagi Kecamatan Sawahan. Pertempuran di Madiun
banyak memakan korban pihak tentara VOC yang pimpin Kapten Zaz.
Tahun
1703 sepeninggal Sri Susuhunan Amangkurat II, terjadi perang suksesi
Jawa I (1704-1708), yaitu perang perebutan kekuasaan Kartasura antara
Amangkurat III (Sunan Mas) dengan pamannya yaitu, Pangeran Puger.
Pangeran Puger kemudian pergi ke Semarang, beliau disana diangkat
sebagai Susuhunan oleh para bangsawan dan Pemerintah Belanda.
Bupati
Madiun Pangeran Tumenggung Balitar Tumapel wafat karena usia tua, putri
sulungnya Raden Ayu Puger menggantikan kedudukan Bupati Madiun, beliau
juga membantu mengirim prajurit-prajurit Madiun untuk membantu
perjuangan Suropati. Tahun 11 September 1705 suami Bupati Madiun,
Pangeran Puger memasuki istana Kartasura, dinobatkan menjadi raja
Mataram Kartasura dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwono I, tentunya
Raden Ayu Puger mengikuti suaminya bertahta di Kartasura, sebagai
penggantinya ditunjuklah saudaranya bernama Pangeran Harya Balitar
menjadi Bupati Madiun. Pada saat itu perang Surapati beralih ke timur,
di Pasuruan yang telah di rebut Untung Surapati dan menduduki tahta
Bupati Pasuruan dengan gelar Tumenggung Wiranegara. Untuk mengurangi
jatuhnya korban, Susuhunan Paku Buwono I memerintahkan Kabupaten Madiun
untuk menghentikan perlawanan. Namun sudah terlanjur banyak korban dari
Madiun, diantaranya Kyai Ronggo Pamagetan, Tumenggung Surobroto, dan
Pangeran Mangkunegara dari Caruban.
Tahun 1705 Pangeran Sunan Mas (Amangkurat III) diusir dari istana Kartasura dan bergabung dengan Untung Surapati di Pasuruan.
Tahun
1706 terjadi pertempuran hebat di Bangil, akhirnya Benteng Surapati
dapat dihancurkan prajurit gabungan, Untung Surapati tewas tanggal 17
Oktober 1706. Peperangan masih dilanjutkan oleh putra Suropati yaitu
Raden Pengantin, Surapati dan Suradilaga yang di bantu prajurit dari
Bali sampai tahun 1708, yang akhirnya banyak melarikan diri bergabung
dengan Bupati Jayapuspita di Surabaya, Amangkurat III tertangkap dan di
buang ke Srilangka. Setelah perang selesai, iring-iringan prajurit
gabungan Kartasura dan VOC kembali melalui Kertosono, Caruban, Madiun,
Ponorogo, Kedawung dan sampai di Kartasura.
Setelah perang
Trunojoyo dan Suropati, selama hampir 40 tahun keadaan Madiun aman dan
tentram, VOC tidak mau ikut campur urusan pemerintahan di Kabupaten
Madiun. Bupati yang berkuasa pada waktu itu adalah Pangeran Harya
Balitar, dilanjutkan Tumenggung Surowijoyo dan Pangeran Mangkudipuro
hingga sampai masa Palihan Nagari.
Asal Mula Nama Madiun
Pada masa pemerintahan Ki Ageng Reksogati
dan Pangeran Timur nama Madiun belum ada, daerah ini dulu disebut
Kadipaten Puroboyo. Asal kata Madiun mempunyai banyak versi, yang
ditinjau dari berbagai sudut pandang, diantaranya yaitu :
Gabungan
dari : kata “medi” (hantu) dan “ayun-ayun” (berayunan), yaitu
dikisahkan ketika Ki Mpu Umyang / Ki Sura bersemedi untuk membuat
sebilah keris di sendang panguripan ( sendang amerta ) di Wonosari (
Kuncen, sekarang ) diganggu gendruwo/ hantu yang berayun-ayun di pinggir
sendang, maka keris tersebut diberi nama ”Tundung Mediun”.
Kemudian
cerita lain berasal dari “Mbedi” (sendang) “ayun-ayunan” (perang
tanding) yaitu perang antara Prajurit Mediun yang dipimpin oleh Retno
Djumilah di sekitar sendang.
Kata ”Mbediun” sendiri sampai sekarang masih lazim diucapkan oleh masyarakat terutama di daerah Kecamatan Kare, Madiun.
Mereka mengucapkan Mbediun untuk menyebutkan Madiun,
Versi
berikutnya adalah Madya-ayun yaitu Madya ( tengah ) ayun ( depan ),
Pangeran Timur adalah adik ipar dan juga salah satu bangsawaan Demak
yang sangat di hormati oleh Sultan Hadiwijoyo di Kasultanan Pajang, maka
pada waktu acara pisowanan beliau selalu duduk sejajar dengan Sultan
Hadiwijoyo di Madya ayun ( tengah depan )
Madiun pada Masa Kerajaan Mataram Islam
Pada akhir Pemerintahan
Majapahit atau Masa kejayaan Kasultanan Demak Bintoro di wilayah Madiun
selatan terdapat Kadipaten Gegelang atau Ngurawan yang didirikan oleh
Pangeran Adipati Gugur salah satu putra Prabu Brawijaya V. Dengan
perkawinan putra mahkota Demak Pangeran Surya Pati Unus dengan Raden Ayu
Retno Lembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di
Ngurawan ( mungkin Dolopo sekarang ) maka pusat pemerintahan dipindahkan
dari Ngurawan ke Desa Sogaten dengan nama baru yaitu Purabaya.
Pangeran
Surya Pati Unus menduduki Tahta Kabupaten Purabaya menggantikan Kyai
Ageng Reksogati yang sebelumnya diangkat oleh Kasultanan Demak sebagai
pemimpin sekaligus penyebar agama Islam di wilayah Sogaten mulai tahun
1518 (Sogaten = tempat Kyai Reksogati) berdasarkan penduduk setempat
istana Purabaya di Sogaten disebut Bale kambang dan terdapat pula dusun
Santren ( mungkin dulu tempat Pesantren Kyai Reksogati )
Pangeran
Timur dilantik menjadi Bupati di Purabaya bersamaan dengan dilantiknya
Hadiwijoyo sebagai Sultan Pajang tanggal 18 Juli 1568, pemerintahan
berpusat di Desa Sogaten dan Sidomulyo sekarang. Sejak saat itu secara
yuridis formal Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan
Kabupaten di bawah Kasultanan Pajang ( sebagai penerus Demak).
Pada
tahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari Sogaten ke Desa
Wonorejo/Wonosari di sebut juga Kutho Miring (Kuncen sekarang) yang
letaknya lebih strategis karena diapit 2 sungai yaitu Kali Catur dan
Nggandong, sampai tahun 1590.
Pada tahun 1586 Kesultanan Pajang
Runtuh akibat adanya konflik internal dan serangan dari Mataram, maka
Panembahan Rama (sebutan lain pangeran Timur) menyatakan bahwa Purabaya
adalah kabupaten bebas yang tidak terikat dengan hierarki Mataram,
dengan tidak tunduknya Purabaya pada Panembahan Senopati, maka Mataram
segera mengirim expedisi militer untuk menaklukan Purabaya sebagai
pimpinan Kabupaten Mancanegara Timur (Brang wetan), tahun 1586 dan 1587.
Namun prajurit Mataram selalu menderita kekalahan yang cukup
berat. Prajurit Purabaya dan sekutu dipimpin oleh Raden Ayu Retno
Djumilah yang telah mendapatkan mandat dari ayahnya Panembahan Rama.
Retno Djumilah memimpin seluruh Kabupaten Mancanegara Timur diantaranya,
Kabupaten Surabaya, Pasuruan, Kediri, Panaraga, Kedu, Brebek, Pakis,
Kertosono, Ngrowo, Blitar, Trenggalek, Tulung, Jogorogo dan Caruban.
Pada
tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk dalam versi lain atas
saran Ki Mandaraka (Ki Juru Mertani) Panembahan Senopati mengutus
seorang dayang cantik jelita bernama Nyai Adisara untuk menyatakan
kekalahan dengan membawa surat takluk dan sebagai tanda, Nyai Adisara
membasuh kaki Panembahan Rama yang airnya nanti digunakan untuk siram
jamas Panembahan Senopati, hal ini membuat Pasukan Purabaya dan
sekutunya terlena, maka berangsur-angsur pulanglah pasukan sekutu dari
Kabupaten Purabaya, dengan ahli strategi Ki Juru Mertani dan 40.000
prajurit Mataram yang telah bersiap di barat Kali Madiun menyerang pusat
istana Kabupaten Purabaya, terjadilah perang hebat, tepat pada sore
hari prajurit Madiun kalah dan banyak yang melarikan diri ke Surabaya,
tinggalah Raden Ayu Retno Djumilah yang memang sudah ditugaskan
ayahandanya untuk mempertahankan Purabaya, dengan di bekali pusaka
Tundhung Mediun yang bernama Keris Kala Gumarang dan sejumlah kecil
pengawalnya.
Perang tanding terjadi antara Sutawidjaja dengan
Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan disekitar sendang di dekat istana
Wonorejo (daerah Demangan)
Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut
oleh Sutawijaya dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah
dipersunting oleh Sutawijaya kemudian diboyong ke istana Mataram
sedangkan Panembahan Rama (Ronggo Jumeno) melarikan diri ke Surabaya,
sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purabaya tersebut maka pada
hari Jum’at Legi tanggal 16 Nopember 1590 Masehi nama “Purabaya” diganti
menjadi “Mbediyun ” atau Mediun
Babad Madiun
Sultan Trenggana mempunyai anak 6 orang, yakni Pangeran Mukmin yg lalu
dinobatkan menjadi seorang wali oleh Sunan Giri yang bergelar Sunan
Prawata. Putra kedua adalah seorang putri yang dipersunting oleh
Pangeran Langgar, putra kyai Gede Sampang di Madura. Putri ketiga
permaisuri Pangeran Hadiri, bupati Kali Nyamat. Putri berikutnya diperistri Panembahan Pasarean di Cirebon.
Putra keenam, disebut Pangeran Timur, lalu diangkat menjadi Adipati di Madiun dan selanjutnya bergelar Panembahan Mediyun.
Waktu itu Madiun masih disebut sebagai Kota Miring. Pangeran Timur yang
diangkat sebagai bupati di Kota Miring, apabila menghadap ke Pajang,
diperkenankan duduk bersanding dengan gusti Sultan Pajang, berbeda
dengan bupati yang lain, oleh karena itu cara menghadap Pangeran Timur
sering disebut dengan Madiyangayun.
Ngayun yang berarti cara menghadap Pangeran Timur lebih maju dari pada bupati yang lain.
Madya berarti kedudukan Pangeran Timur sudah seperti setengah raja.
Oleh karena itu lama kelamaan Kota Miring disebut juga kota Madiun, dan
yang memerintah di Madiyun disebut Panembahan Senopati Madiyun.
Panembahan Senopati Madiun mempunyai dua orang putra. Yang sulung
bernama Ajeng Retno Dumilah, dan yang muda diberi nama Raden Lontang.
Saat itu Demak mulai suram dan Pajang mulai timbul. Saat itu Arya
Penangsang memberontak, dan berhasil dibunuh oleh Sutawijaya, sehingga
ketenaran Pajang mulai bergeser ke Mataram, dan Sutawijaya bergelar
Ngabehi Loring Pasar, dan semua bupati takluk kepada Mataram.
Tapi Madiun tidak takluk ke Mataram, karena masih membela kematian Arya
Penangsang, yang pada akhirnya nantinya timbul peperangan antara Mataram
dengan Madiun.
Agar peperangan tidak berlarut larut, Sunan Giri berkenan turun ke lapangan, dan dipertemukan antara Madiun dengan Mataram.
Disitu Sunan Giri membuat teka teki.:" Dunia ini ada dua macam, wadhah
dengan isi." Disini Madiun lebih memilih isi dan mataram lebih memilih
Wadhah.
Setelah itu peperangan berhenti, dan utusan Mataram pulang ke Mataram.
Saat itu di Mataram sedang ada pertemuan, dan para utusan melaporkan
hasil pertempurannya dg Madiun.
Sebenarnya sang raja marah mendengar hasil pertemuannya dg Madiun, tapi
para sesepuh memberi penjelasan kalau memilih wadhah itu lebih utama dan
lebih bijaksana, namun Mataram juga masih harus tetap
berhati - hati, karena Madiiun masih mempunyai pusaka sakti, kyai Tundhung Mediyun yang cara mengatasinya amatlah rumit.
Lalu Panembahan Senopati mengutus Nyai Ria Adisara untuk membawa kembang
setaman ke Madiun perlu untuk mencuci kaki Panembahan Madiun sebagai
tandha takluk. Tetapi Panembahan Madiun beserta para prajuritnya tidak
percaya, lalu mereka pergi ke suatu tempat untuk ngongak (melihat dari
kejauhan) apa benar Mataram mengirim pasukan tandha takluk. Daerah itu
sampai kini diberi nama desa Pangongakan.
Setelah Nyai Ria Adisara sampai segera mencuci kaki Panembahan Madiun
dengan kembang setaman, dan sisa dari air untuk mencuci kaki Panembahan
Madiun itu lalu dibawa ke Mataram guna dipakai keramas Panembahan
Senopati.
Tetapi setelah Nyai Ria Adisara meninggalkan Madiun, tiba- tiba para
prajurit Mataram yg berjumlah ribuan segera menyerang Madiun yg tak siap
berperang. Bagaikan air bah mereka menyerang Madiun, sampai Madiun
kebobolan.
Saat itu Panembahan Madiun , Panembahan Rangga Jumena segera memanggil
putrinya Raden Ayu Retno Dumillah untuk dipasrahi pusaka keris Tundhung
Mediyun, untuk dipakai menumpas siapa saja yg berani menembus Kadipaten
Madiun.
Dan setelah itu panembahan Rangga Jumena hilang gaib tanpa bekas.
Raden Ayu Retno Dumilah segera membentuk pasukan wanita guna dipakai
benteng terakhir Madiun. Panembahan senopati mengetahui hal ini segera
merayu sang dyah ayu. Karena terlena oleh rayuan Panembahan Senopati, dg
tanpa disadarinya keris Tundhung Mediyun jatuh terlepas
dan segera disaut panembahan senopati, dan Raden Ayu Retno Dumilah menjadi istri Panembahan Senopati dan Mediyun mulai saat itu menjadi daerah taklukan Mataram.
sumber : http://ceritarakyatdijawatimur.blogspot.com/
Sejarah Kota Madiun
Pada tanggal 1 Januari 1832 Madiun secara resmi dikuasai oleh Pemerintah Hindia belanda dan dibentuklah suatu Tata Pemerintahan yang berstatus "KARISIDENAN" Ibu Kota Karisidenan berlokasi di Desa Kartoharjo (tempat Patih Kartohardjo) yang berdekatan dengan Istana Kabupaten Madiun di Pangongangan. Sejak saat itu mulailah berdatangan bangsa Belanda atau Eropa yang lain berprofesi dalam bidang perkebunan tebu dengan Pabrik Gulanya seperti PG. Sentul (Kanigoro), PG. Pagotan (Uteran), PG. Rejoagung (Patihan) milik orang cina.
Kecuali itu muncul pula perkebunan teh di Jamus dan Dungus, Kopi di Kandangan, Tembakau di Pilangkenceng, semua warga negara eropha bermukim di tengah kota sekitar istana Residen Madiun, supaya tidak kena pengaruh orang Madiun yang pemeberani karena bekas kotanya merupakan tempat pusat pertahanan wilayah timur Mataram (Monconegoro Timur) yang anti belanda. Maka segresi sosial (pemisahan sosial) harus dilakukan. Dikandung maksud untuk membendung jangkuan pengaruh kaum pergerakan rakyat indonesia , maka perlu mengubah ketatanegaraan di Madiun yakni Kota yang berdiri sendiri dimana pemimpimnya tetap bangsa belanda, masyarakat sebagian besar orang asing. Dan lagi pula kerajaan belanda telah mengeluarkan Undang-undang yang mengatur daerah perkotaan yang disebut : Inlandsche Gemeente Ordonantie yang dikeluarkan pada tahun 1906 oleh Departemen Binnenlandsch Bestuur yang dalam hal itu oleh Menteri S. De Graaf.
Maka wilayah perkotaan Madiun dipisahkan dari Pemerintah Kabupaten Madiun menjadi Stadsgemeente Madiun atau Kota Praja Madiun atau Haminte Madiun. Kotapraja madiun berdiri berdasarkan Peraturan Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 20 Juni 1918 dengan landasan Staatsblad Tahun 1918 Nomor 326, sehingga wilayah itu dikepalai oleh seorang Burgemeester yang pertama dijabat oleh Ir.M.K. Ingenlijf semula menjabat asisten residen Madiun (modalnya terdiri dari 12 pedesaan yakni Madiun Lor, Sukosari, Patihan, Oro Oro Ombo, Kartoharjo, Pangongangan, Kejuron, Klegen, Nambangan Lor, Nambangan Kidul, Pandean, Taman) yang administratif berstatus Desa Perdikan dibawah naungan keraton Yogyakarta yang kemudian diganti oleh De Maand hingga tahun 1927. Sedangkan lembaga dan jabatan Walikota Madiun baru diadakan 10 tahun kemudian dengan dikeluarkan staatsblad nomor 14 tahun 1928.
Pada Zaman Jepang daerah ini menjadi Madiun Shi yang diperintah oleh seorang Shi Tjo dan mempunyai wilayah 12 Desa, setelah Proklamasi Kemerdekaan, dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 tahun 1948, maka Madiun Shi diubah menjadi Kota Besar Madiun dengan wilayah 12 Desa dibawah perintah Walikota. Kemudian demi pemerataan wilayah berdasar UU Nomor 22 tahun 1948 maka menurut Surat Keputusan Nomor 16 Tahun 1950 Kotapraja Madiun diperjuangkan diperluas dengan mendapat tambahan dari Kabupaten Madiun yaitu 8 (delapan) Desa yakni Demangan, Josenan, Kuncen yang semula berstatus speerti Desa Perdikan Taman, Banjarejo, Mojorejo, Rejomulyo, Winongo dan Manguharjo. Kemudian dengan berlakunya Undang-undang Nomor 1 tahun 1957 sebagai pengganti Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948, Kota Besar Madiun berubah menjadi Kotapraja Madiun dengan wilayah 12 desa dan diperintah oleh seorang Walikota, selanjutnya berdasar Undang-undang Nomor 24 Tahun 1958 diadakan perubahan batas-batas wilayah Kotapraja Madiun, kerena mendapat tambahan wilayah sebanyak 8 (delapan) buah desa dari Kabupaten Madiun, sehingga wilayah Kotapraja Madiun menjadi 20 desa. Pelaksanaan perubahan batas-batas ini diadakan pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 1960 bertempat di Kabupaten Madiun oleh Walikota dan Bupati. Kemudian dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 sebagai pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1957, Kotapraja Madiun diubah dengan Kotamadya Madiun dengan wilayah 20 desa dan diperintah oleh Walikota Kepala Daerah.
Selanjutnya dengan berlakunya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, sebagai pengganti UU Nomor 18 tahun 1965, maka Kotamadya Madiun berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Madiun, dengan wilayah 20 desa dan istilah Walikota Kepala Daerah Kotamadya Madiun diubah menjadi Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Madiun. Dalam Tahun 1979 atas persetujuan DPRD Kotamadya dan Kabupaten Daerah Tingkat II Madiun, diusulkan pemekaran daerah Kotamadya menjadi 27 Desa/Kelurahan. Dimana terhitung mulai tanggal 18 April 1983 wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Madiun yang semula terdiri dari 1 Kecamatan meliputi 20 Kelurahan dengan luas 22,95 KM2 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 1982 dan Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 135.1/1169/011/1983 tanggal 19 Januari 1983 bertambah menjadi 7 desa yang berasal dari Kabupaten Daerah Tingkat II Madiun yakni Desa Ngegong, Sogaten, Tawangrejo,Kelun, Pilangbango,Kanigoro dan Manisrejo), sehingga luas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Madiun menjadi 33,92 KM2 terdiri dari 3 Kecamatan dengan 20 Kelurahan dan 7 Desa dimana masing-masing kecamatan terdiri dari 9 Kelurahan/Desa.
Sumber : Wikipedia

















